Jumat, 28 Januari 2011

Quality at affordable price

Perhaps, none of person who work in European car manufacture ever realize that some day cheap Japanese car can crush their market share in luxury premium class sedan. But instead of worrying their rival from Japan, most people who work in European car manufacture still think that most luxury market belongs to them.


Until someday, when Toyota launched Lexus for the first time, and Nissan released Infinity to global market and Honda start with Acura, then everything change and turn European car manufacture market from majority into common and some even into minority player.


The success behind those Japan car manufacture is not about how good they are, but it's all about reliability at affordable price, good enough but still can save some money in your pocket.


It is the same condition now with Korean manufacture. In the past, most Asian country still think Korean car manufacture is nothing except problem. But these day, manufacture from Hyundai and others can prove with some new model that slowly but sure change that image.


Even in the electronic industries, most of Korean company already a big problem for Japan electronic manufacture like Sony, Pioneer, Panasonic and others.


Slowly but sure, some Japan electronic manufacture have use some parts from Korean company. Even company like Samsung has conquer some Japan model, like LED Samsung C9000 has been a serious threat for Sony Bravia NX series.


This is something that 10 years ago none of us will believe that it would be happen someday.


But if you think that is enough, then you are wrong. Now even China company already start their revolution in high end industry. From stealth jet fighter that use some parts from Russia, to electronic industry like Changhong. Yes, Changhong, even I laugh when first time my friend said that brand.


In reality, Changhong did the same path like first time LG do. Both of them, for the first time, play in low class segment, but day by day, they start to improve their skill, their knowledge and even their vision.


My lecture in management school ever asked, "what is the difference between USA company and Japan company?". The Japan and most Asia company, they change step by step, doing some evolution not revolution.


It is the same situation that actually apply in our country. Do you know Toyota - Kijang? Have you ever know, that before it evolute into Toyota - Innova, it was a trial project using some unused engine parts from Toyota? I even surprised that the old Toyota Kijang from first generation that once used by my neighbor was a project car. But imagine how far that evolution has become from trial-error project into fly by wire MPV?


Yes, these day the new Innova use fly by wire technology in their gas throttle like many modern car these day. It is something that even the first team who build Kijang never dream of. And because of that, many driver still do wrong how to drive their car in correct way, instead of push the gas pedal slowly, they still do in hard way like it was in old days, and they complaining about how fast the fuel drop, that actually happen because their bad driving skill.


Now the lesson that we can learn from this story are:

  1. Major people in the end still look for price, even in luxury market, if there is a goods/services that can give pleasure and satisfy them both in quality and affordable price, consumer will do pick up that thing.
  2. Industry need to do evolution, if not, they will lag behind or die in market competition.
  3. To stay in very niche luxury / premium market, you cannot stand only with quality, but have to use many things, from prestige and exclusivity, lifestyle, community (like most brand name use this day), and later, fanatism. Because in the end, only fanatism can bend your logic :)


Protected by Copyscape Online Plagiarism Detector

Minggu, 02 Januari 2011

Sekilas Outlook Perekonomian 2011

Sidang Pembaca yang terhormat, tidak terasa kita telah memasuki di hari ketiga tahun 2011. Melihat dan merasakan apa yang telah kita alami selama tahun 2009 dan 2010, penting kiranya bagi kita untuk semakin mencermati dan mengevaluasi strategi bisnis yang tepat guna menghadapi permasalahan di tahun 2011 ini.

Berikut, kami akan menyampaikan sekilas mengenai perkiraan kondisi perekonomian di tahun 2011 yang penuh tantangan ini:

  1. Inflasi => Diperkirakan tingkat inflasi tahun 2011 akan semakin naik, terutama dengan melonjaknya inflasi di akhir 2010 akibat kenaikan harga komoditas pangan terutama cabai, dan juga faktor cuaca ekstrim yang menyebabkan penurunan produktivitas di sektor pertanian. Faktor spekulasi dan permintaan di pasar minyak juga menyebabkan lonjakan harga komoditas tambang yang turut memicu inflasi secara global.
  2. Nilai tukar => Dollar diperkirakan akan tetap lemah terhadap beberapa mata uang utama dunia lainnya karena pemerintah Amerika akan terus mengintervensi pasar dengan pembelian kembali berbagai surat berharga milik mereka dan juga terus-menerus dilakukannya cetak uang guna membiayai defisit perekonomian Amerika yang semakin membengkak, sementara pelarian modal ke negara-negara emerging market terutama Indonesia terus terjadi sebagai dampak memburuknya pasar ekonomi Eropa dan belum stabilnya perekonomian Amerika.
  3. Pasar Modal => Laju indeks saham gabungan diperkirakan akan semakin meroket akibat euforia pasar saham disebabkan banjirnya hot money dari Amerika dan Eropa dan sejumlah investor global, sehingga menimbulkan ketegangan yang sangat tinggi di pasar modal, di mana harga saham akan semakin tidak wajar dan menimbulkan risiko kejatuhan yang sangat tinggi jika indeks terus menerus melaju tanpa disertai koreksi yang wajar. Selain itu kenaikan harga SUN (Surat Utang Negara) sudah mencapai level puncaknya akibat pembelian oleh asing secara terus menerus semenjak tahun 2009, dan menyebabkan imbal hasil yang ditawarkan tidak menarik lagi. Jika inflasi ternyata melebihi ekspetasi pasar, dikhawatirkan harga SUN akan jatuh karena faktor kemungkinan naiknya suku bunga perbankan.
  4. Perbankan => Persaingan di dunia perbankan akan semakin ketat dan tinggi, ditandai dengan merger dan akuisisi sejumlah bank, dan turunnya peringkat salah satu bank menjadi BPR akibat tidak mampu memenuhi ketentuan modal wajib mininum. Ketentuan pengumuman suku bunga pinjaman bagi nasabah utama (prime lending limit) untuk perbankan juga dinilai akan merugikan sejumlah bank yang struktur permodalan dan pendanaannya didanai oleh dana deposito jangka panjang. Karena dengan demikian para pesaing maupun nasabah kredit akan segera mengetahui bentuk struktur pembiayaan bank tersebut sehingga melemahkan daya saing bagi bank-bank itu, sebab dipastikan nasabah akan lari mencari bank yang bunga pinjaman kreditnya paling rendah. Sehingga bank-bank dipaksa untuk berfikir lebih cerdas dalam mencari keuntungan usaha baik dengan cara menurunkan suku bunga pinjaman ataupun cara lainnya jika ingin tetap bertahan.
  5. Industri Manufaktur => Masuknya barang-barang import baik yang legal maupun illegal dari RRC, kenaikan tarif listrik dan UMR (Upah Minimum Regional) di dalam negeri dan melambatnya pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara tujuan ekspor, akan menghambat pertumbuhan industri manufaktur dalam negeri terutama mereka yang sangat mengandalkan pengerahan tenaga kerja manusia secara masif seperti industri tekstil / garment dan industri alas kaki. Hal ini akan semakin diperparah oleh pembatasan BBM bersubsidi di mana biaya operasional kendaraan operasi sebagai sarana transportasi baik bus karyawan maupun transportasi internal perusahaan akan membengkak. Dalam hal ini perusahaan harus mulai berfikir penggunaan outsourcing transportasi umum berplat kuning sebagai alternatif transport dan juga penggunaan 3rd party logistics sebagai sarana pengiriman barang baik ke dalam maupun luar perusahaan.
  6. Industri Otomotif => Pembatasan BBM bersubsidi dan pajak progresif juga ditengarai akan memukul sejumlah industri otomotif dalam negeri, selain itu perusahaan juga dituntut melakukan subsidi silang penjualan kendaraan bermotor roda dua dengan kendaraan bermotor roda empat agar pembatasan BBM bersubsidi tidak sampai memukul drastis profit penjualan secara keseluruhan.
  7. Industri Tambang => Tahun ini merupakan tahun berat dan juga tahun kesempatan bagi industri tambang baik dalam maupun luar negeri. Kenaikan harga minyak dunia yang drastis mendekati 100 USD/Barrel memicu kenaikan harga komoditas tambang di seluruh dunia, namun di sisi lain semakin sulitnya ditemukan sumber tambang baru dan tingkat keberhasilan penambangan baru yang semakin rendah turut memperbesar risiko kegagalan industri tambang, meskipun akan menaikan harga bahan tambang secara drastis sebagai dampak kompensasi kelangkaan sumber daya mineral yang semakin susut di seluruh dunia.
  8. Industri Logistik => Di tahun 2011, tantangan dunia logistik akan semakin berat, meskipun pemerintah berencana tidak menaikan BBM bersubsidi, dan mengijinkan industri pelaku logistik yang masih memakai plat hitam untuk konversi ke plat kuning, namun secara keseluruhan biaya operasional logistik akan naik, karena kenaikan UMR dan juga biaya-biaya lainnya. Faktor hidden cost terutama soal biaya siluman di perjalanan maupun pengurusan barang juga menjadi concern bagi dunia logistik tanah air. Dalam hal ini KPK dituntut untuk lebih proaktif memberesi carut marut biaya siluman di sejumlah departemen agar tidak memukul industri tanah air.

Demikian sekilas pandangan kami akan tantangan di tahun 2011 ini, semua ini baru hanya pandangan sekilas semata karena keterbatasan waktu untuk melakukan riset yang lebih mendalam, namun kami berharap baik para pelaku usaha dan pemerintah duduk satu meja memberesi masalah birokrasi yang menjadi hambatan utama berbisnis di tanah air. Karena masalah terbesar adalah masih berkisar di soal kesimpang siuran kebijakan pemerintah dengan kepentingan dunia usaha.

Jakarta, 3 January 2011
The Alexindo Management Consulting
The ALJORB INVESTMENT GROUP Ltd

Protected by Copyscape Plagiarism Detector

Minggu, 26 Desember 2010

Tips Memilih Motivator Yang Berkualitas vs Motivator Pembual

Belakangan ini profesi motivator semakin banyak diburu oleh orang, terutama para pendamba kebebasan finansial, karena hanya modal cuap-cuap, dengan sejumlah besar pengunjung, dalam sehari bisa diraih penghasilan yang fantastis.

Berbagai macam ragam sarana dan topik yang dibuat dan dipilihkan oleh sang motivator guna memancing minat para pengunjung maupun sebagai sarana sosialisasi ide-ide ataupun pengetahuan mereka. Dari mulai yang berbicara mengenai pemasaran, ekonomi, saham, valas, kecantikan, lifestyle, dan seribu satu macam lainnya.

Namun banyak juga para peserta ataupun pengunjung suatu seminar ataupun workshop yang kecewa setelah beberapa kali mengikuti acara sang motivator, dan bahkan merasa telah dibohongi ataupun ditipu dan dibodohi.

Dari beberapa forum, bahkan sampai ada yang mencaci maki seorang motivator pasar modal sebagai penipu dan pembual yang membuat bangkrut para pesertanya. Padahal jika mengikuti aturan sesuai kaidah-kaidah baku ilmu finansial, tanpa harus mengikuti pelatihan dari sang motivator, peserta seminar yang bersangkutan bisa berhasil dan bahkan mungkin lebih baik daripada sang motivator sendiri.

Berangkat dari keprihatinan tersebut, kami memberikan sedikit tips yang mungkin berguna untuk menyaring mana yang motivator pembual dan mana yang tidak:

  1. Hindari pembicara yang senang show off memamerkan hasil kekayaannya atau sering tebar pesona dan tebar amal seperti melempar / membagikan sejumlah besar uang ke hadapan publik , pamer koleksi mobil mewah, dan lain sebagainya. Orang ini tidak lebih dari pembual ala penipu di jembatan penyeberangan Sudirman.
  2. Jangan percaya kepada motivator yang sering menyatakan sesuatu di luar common sense (akal sehat) apalagi logika ilmu pengetahuan dan kaidah ilmu yang dapat dipertanggungjawabkan. Jangan pernah mencerna sesuatu dari seorang pembicara secara mentah-mentah, pelajari juga dari sudut keilmuan dan keilmiahannya, dan coba melihat dan pelajari dari berbagai sudut pandang, percaya hanya kepada omongan satu orang adalah jalan kesesatan.
  3. Lihat dan dalami apa yang dikatakan dan diucapkan oleh sang motivator apakah dia mempraktekan dalam hidup kesehariannya atau tidak. Karena ada motivator yang munafik namun juga ada motivator yang benar-benar sejalan dan selaras dalam perkataan maupun perbuatan. Ada seseorang yang selalu berkoar-koar bahwa dia mendapatkan tubuh indah dari hasil berolahraga, padahal sang dokter bedah kecantikannya sampai menyumpah-nyumpahi orang tersebut karena yang bersangkutan menutupi kenyataan bahwa bentuk tubuh indahnya adalah hasil operasi sedot lemak.

Sebenarnya masih ada banyak lagi tips lainnya, namun kami memandang setidaknya tiga hal di atas adalah hal utama yang harus anda perhatikan dalam menilai dan memilih untuk ikut suatu kursus atau seminar agar uang tersebut jangan hanya memperkaya sang pembicara namun juga memperkaya hidup anda.

Semoga Bermanfaat.

Protected by Copyscape Online Plagiarism Checker

Jumat, 17 Desember 2010

Besar Belum Tentu Lebih Baik

Copyrights ada pada Alexindo Management Consulting dan Alexander Batara, dilarang keras melakukan copy paste dan sharing tanpa seijin penulis.

Mencermati iklan - iklan dari para provider selular belakangan ini, nampak sekali adanya usaha untuk promosi jaringan selular mereka dan menawarkan solusi broadband baik untuk penggunaan internet secara umum maupun solusi bisnis berbasis broadband.

Sekedar penyegaran kembali, dalam internet dan broadband multimedia, kualitas jaringan tidak semata ditentukan oleh besarnya bandwidth anda ataupun banyak sedikitnya BTS milik anda. Karena boleh-boleh saja provider X memiliki BTS hingga 1 juta menara dan backbone bandwidth hingga 1TB/s ke jalur backbone Amerika, namun jika jumlah BTS itu tidak memenuhi ratio normal antara kepadatan pengguna di sekitar menara terhadap jumlah BTS nya maka semua itu sia-sia belaka, belum lagi masalah traffic management bandwidth, di mana kualitas jaringan ditentukan oleh kelancaran stream data baik upload maupun download.

Salah satu provider selular terbaik yang baru-baru ini terpilih ternyata bukan yang terbesar, bahkan termasuk yang biasa-biasa saja meskipun bandwidth nya sendiri tergolong nomer 2 terbesar. Namun provider ini punya teknik sendiri dalam memanajemeni jaringan internetnya. Terbukti dari signal nya yang selalu penuh, dan ratio kecepatan internetnya cenderung stabil meskipun di jam-jam sibuk, sehingga banyak orang setia berlangganan blackberry pada provider selular ini.

Jika berguru kepada pakar nya internet bandwidth di Indonesia, yakni CBN, anda tentu tahu mengapa perusahaan ini sangat mati-matian menjaga QOS (Quality of Service) nya. Mereka bahkan pada masa-masa awal sangat membatasi pertumbuhan jumlah user terhadap ketersediaan jaringan baik pada bandwidth maupun pada jalur modem pool nya. Memang harga yang ditawarkan relatif tidak murah, namun anda mendapatkan kualitas yang sesuai dengan harga.

Price war atau perang harga pada layanan produk broadband terutama yang berbasis selular pada akhirnya bukanlah solusi, melainkan bisa mengakibatkan ekonomi biaya tinggi pada operasional perusahaan. Karena biaya pengembangan jaringan tidak sebanding dengan pendapatan yang diperoleh. Anda boleh berkata improvisasi pendapatan dari layanan ringtone dan lain sebagainya, namun menjaga kualitas layanan jaringan adalah hal yang berbeda, karena biaya terbesar dari servis jasa ini adalah pada komponen quality services jaringan nya dari mulai backbone, ratio BTS per regional user hingga ke manajemen jaringan itu sendiri.

Yang harus dicermati lagi adalah, jumlah user yang besar bukan berarti pendapatan anda juga besar, karena semakin banyak investasi pada alat dan jaringan maka cost operasional nya juga semakin besar. Inilah mengapa tidak mudah menjaga dan memanajemeni perusahaan dalam skala raksasa. Belum lagi biaya mendidik dan melatih para backoffice dan para call centre officer yang bertugas 24 jam terus menerus. Mereka dituntut untuk tetap sigap dan segera melakukan perbaikan terhadap masalah yang dikeluhkan oleh para pelanggan.

Hal serupa juga berlaku pada layanan perbankan, biaya pelatihan dan investasi peralatan serta infrastruktur adalah hal terbesar yang harus diperhatikan baik-baik karena sifat dari industri jasa itu sendiri yakni customer satisfaction. Jangan karena nafsu mengejar pertumbuhan pelangganan dan pengguna jasa, lantas mengabaikan kesiapan infrastrukturnya. Karena sekali saja pelanggan tidak puas, mereka akan mudah beralih ke pesaing yang potensial.

Protected by Copyscape Online Plagiarism Checker

Kamis, 25 November 2010

Quantitative Easing (QE)2, Bubble dan Ketidakpastian Global

Dengan diluncurkannya paket QE2 oleh The Fed yang bertujuan membeli kembali surat-surat berharga dari pasar, dipastikan aliran hot money mengguyur deras ke hampir seluruh emerging market terutama Indonesia.

Banyak analisis mengkhawatirkan terjadinya bubble, namun pemerintah berusaha meredam aliran hot money ini agar tidak terjadi sudden reverse dengan memperpanjang instrumen SBI menjadi 3 bulan - 6 bulan, selain daripada itu pemerintah sengaja mendorong semua pihak baik swasta maupun BUMN agar melakukan IPO dan penambahan jumlah saham yang beredar di bursa agar dapat menambah likuditas dan permodalan dan juga untuk meredam bubble.

Di sisi lain, BI sebagai penjaga kebijakan moneter, terus menekankan perbankan agar tetap berhati-hati dalam berekspansi kredit dan melakukan pertumbuhan karena situasi global yang masih belum stabil meskipun data angka pengangguran dari USA sudah menunjukan penurunan yang signifikan.

Dengan masuknya IHSG pada zona 3700an, tentu semua pihak mulai khawatir terlebih kenaikan indeks lebih banyak ditopang oleh saham-saham 2nd liner dan 3rd liner. Terlihat dari RD Saham yang benar-benar outperform IHSG tahun ini hanya ada tiga (hasil riset infovesta).

Kita lihat apakah betul kita sudah bubble dan akan ada big correction di tahun 2011 mendatang atau tidak. Salam :)

Protected by Copyscape Plagiarism Detector

Kamis, 11 November 2010

Pelajaran IPO KS: Tidak Ada Makan Siang Gratis

Menyimak tulisan Headline di salah satu harian bisnis terkemuka Kamis 11 November 2009 ini mengenai indikasi adanya perampokan uang negara secara sistematis oleh para pemain bursa dalam IPO salah satu BUMN, bukanlah berita baru ataupun hal yang aneh.

Karena, jika di wallstreet saja mereka rutin melakukan hal tersebut dari mulai skandal Enron dan lain sebagainya, apalagi untuk ukuran negara seterbelakang Indonesia dalam hal regulasi dan pencegahan praktek kotor dunia pasar modal.

Sebab pada prinsipnya uang tidak mengenal tuan, siapapun bisa memakai dan menyalahgunakannya, adalah terlalu naif dan bodoh jika para petinggi negara terlalu mempercayai “investor asing”. Tidak ada satupun di antara mereka yang masuk ke Indonesia hanya dengan tujuan membantu / menolong belaka. Di dunia bisnis, setiap sen uang yang keluar itu harus menghasilkan. Apalagi dalam pasar modal, kalau bisa modal dengkul (pinjam uang) tapi untung milyaran.

Terbukti para investor asing, hanya dalam perdagangan perdana sudah melepas untung luar biasa besar, masuk dengan harga IPO 850 rupiah per lembar saham, dan dilepas pada harga 1270 per lembar saham atau naik sekitar 49.41 persen hanya dalam tempo satu hari.

Ini membuktikan bahwa apa yang pernah saya sampaikan secara pribadi kepada seorang sahabat yang ingin memburu IPO BUMN tersebut adalah terbukti kebenarannya, karena pada harga 850 rupiah per lembar saham, valuasinya adalah sangat murah, dan harga wajar nya ada pada kisaran 1100-1200an rupiah per lembar.

Memberikan jatah IPO secara mayoritas kepada para pemain asing adalah suatu tindakan naif kalau tidak mau dibilang bodoh. Karena meskipun dikatakan takut tidak ada yang mau beli, kita harus bisa percaya diri dan melihat sendiri nilai wajar unit bisnis ataupun badan usaha yang hendak kita jual.

Sebab ukuran harga wajar suatu perusahaan tidak semata ditentukan oleh neraca keuangannya saja, tapi juga proyeksi pertumbuhan usaha dalam jangka panjang dan juga faktor-faktor lainnya yang merupakan kesatuan dalam mempengaruhi harga suatu badan usaha (silahkan anda pelajari buku Investment Valuation karangan Prof Damodaran).

Dan meskipun dikatakan BUMN tersebut tidak profitable, namun industrinya adalah industri strategis, dalam arti, industri tersebut memegang peranan pokok dalam ketahanan industri dalam negeri secara keseluruhan dan berdampak strategis dalam pembangunan jangka panjang.

Jadi akhir kata, silahkan cerna sendiri, apakah ini bentuk lain dari perampokan sistematis ala Bank Century atau memang kesalahan dan kebodohan para pejabat kita semata? Ngomong-ngomong, kejadian ini akan semakin sering di kemudian hari, karena proses pembiaran penegakan hukum yang rapuh berlarut-larut seperti kasus Century yang telah dipetieskan dan lain sebagainya.

Protected by Copyscape Online Plagiarism Checker

Minggu, 31 Oktober 2010

Kebangkrutan Jepang, antara Surat Hutang, Produktifitas dan Pencapaian Budaya

Ribuan tahun yang lalu, bangsa Tiongkok pernah mencapai puncak prestasinya, yakni sebagai bangsa besar yang memiliki kebudayaan yang paling maju, ekonomi terdepan, dan penguasaan tehnologi (mesiu walaupun pada masa itu hanya sebagai kembang api, dan tulisan sebagai cikal bakal tehnologi informasi). Hanya saja, kemunduran terjadi ketika mereka menutup diri dari pengaruh luar sehingga perlahan-lahan hubungan perdagangan dan budaya mengalami kemunduran drastis dan akhirnya tenggelam dalam waktu yang lama sebelum akhirnya mulai bangkit kembali di akhir abad ke 20 dan awal abad 21.

Jepang pun mengalami hal yang sama, mereka bangkit sebagai raksasa ekonomi peringkat ke tiga dunia pada abad ke 20 sesudah restorasi Meiji dan terjadinya musibah bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, namun kembali memudar di awal abad ke 21.

Mengapa dikatakan Jepang akan bangkrut? Pertama Surat Hutang Jepang sudah luar biasa besar, yang mencapai 10 Trilyun USD dan belum selesai-selesai terbayarkan meskipun hanya menggunakan suku bunga 0.5% saja. Padahal beban bunga tersebut telah menyedot hampir 59% dari pemasukan pajak, artinya jika kemudian Surat Hutang Jepang kurang menarik, maka pemerintah Jepang harus menaikan suku bunganya lagi dan otomatis membebani pembiayaan dari sektor pajak.

Kedua, angkatan kerja produktif di Jepang sudah menyerupai piramida terbalik, di mana usia tua lebih banyak ketimbang usia muda yang produktif. Padahal anak-anak muda adalah harapan bangsa, jika anak muda Jepang tidak ada lagi ataupun ada namun hanya bersifat konsumtif dan lemah, bagaimana mereka membiayai para warganya yang sudah manula?

Ketiga, industri manufaktur dalam negeri Jepang tidak sebanyak industri manufaktur Jepang di luar negeri, artinya kekuatan ekonomi lebih banyak ditopang oleh aliran dana masuk dari hasil pendapatan anak perusahaan / cabang dan investasi di luar negeri ketimbang penguatan di dalam negeri.

Ke empat, terjadinya kemunduran di dalam kebudayaan, ditandai dengan banyaknya tekanan sosial bunuh diri di kalangan muda, melorotnya industri hiburan musik dan perfilman kalah melawan industri hiburan dari Korea dan Hongkong / China dan lain sebagainya.

Perlu dipahami mengapa saya menuliskan demikian, karena baik musik/film dan budaya panggung teater (drama teater) itu adalah satu paket dengan pembangunan ekonomi. Industri kreatifitas tetap merupakan motor penggerak ekonomi, di mana kemunduran pada industri tersebut merefleksikan kemunduran ekonomi negara tersebut.

Ini menjadi pelajaran penting bagi Indonesia agar mewaspadai ancaman kebangkrutan Jepang dalam perspektif hubungan ekonomi dan perdagangan bilateral. Karena tindakan Jepang memaksakan negara kita untuk masuk ke dalam perjanjian dagang bilateral bebas bea bukan tanpa alasan, akan tetapi karena mereka sendiri dalam masalah besar. Sehingga kita tidak boleh terlalu tunduk terhadap kemauan dari saudara tua yang sebenarnya tetap menjajah kita tersebut.

Protected by Copyscape Online Plagiarism Checker