Sabtu, 02 April 2011

Kasus MD - Pentingnya Mereview Ulang Konsep Perbankan Prioritas

Beberapa hari terakhir ini, ketenangan dan kepercayaan para nasabah bank terhadap sistem perbankan nasional di tanah air diguncangkan oleh kasus pembobolan bank yang menghantam bank-bank di tanah air, baik bank asing maupun Bank BUMN.

Jikalau pembobolan bank-bank BUMN dilakukan oleh para nasabah debitur bekerjasama dengan orang dalam, ataupun melibatkan non nasabah dengan orang dalam. Sementara kasus yang menimpa bank asing merupakan murni pembobolan account para nasabah prioritas oleh Relationship Manager-nya sendiri.

Selama ini demi mengejar target penambahan dana pihak ketiga dalam jumlah besar, bank-bank di tanah air baik Bank Swasta Asing dan Non Asing maupun Bank BUMN telah terjebak dalam euforia Perbankan Prioritas tanpa mengerti dan memahami konsep Perbankan Prioritas.

Mereka beramai-ramai mencontek style Private Banking ala Bank - Bank Swiss tanpa memahami konsep dasar dalam membangun sistem perbankan prioritas yang aman, terpercaya, bersahabat dan baik. Seringkali para Relationship Manager bekerja tidak sebagaimana fungsi semestinya. Ada yang mirip seperti pesuruh pribadi ataupun asisten pribadi, ada yang bekerja mirip seperti sales di toko, ada juga yang bekerja mirip seperti akuntan pribadi.

Padahal seharusnya para Relationship Manager bekerja sebagaimana layaknya fungsi utamanya, yakni menjaga relasi hubungan baik antara perbankan dan nasabah dan membantu nasabah mengelola dananya agar mencapai hasil investasi yang optimal.

Para relationship manager seharusnya juga tidak diberikan kewenangan yang terlalu besar apalagi tanpa kontrol dalam melakukan segala kegiatan yang berhubungan dengan transaksi keuangan. Karena hal ini dapat memicu munculnya kasus fraud terhadap dana nasabah.

Besarnya pengelolaan dana nasabah, juga seharusnya membuat bank membangun sistem audit baik keuangan maupun audit terhadap gaya hidup para relationship managernya secara maksimal. Terutama di tahap-tahap awal seleksi calon pegawai, harus benar-benar dilakukan pemeriksaan psikologis secara menyeluruh, karena biasanya bibit-bibit perilaku menyimpang dari calon pegawai bisa terbaca dan terdeteksi sejak dini pada tahapan seleksi wawancara dan pemeriksaan psikologis kepribadian.

Adalah salah jika tujuan bank hanya mengejar profit semata seperti yang terjadi belakangan ini, di mana penerimaan pegawai atas landasan orientasi target semata, tanpa mempertimbangkan faktor kejujuran dan loyalitas bekerja karyawan.

Sebab pengawasan yang lemah dan seleksi karyawan secara serampangan justru akan menjadi bumerang yang kelak menyerang bank itu sendiri di kemudian hari.

Begitu pula dengan sistem operasional di dalam perbankan prioritas, seharusnya tetap memperhatikan konsep kehati-hatian perbankan, dan tetap melibatkan nasabah, tidak seluruhnya dibebankan tugas tersebut kepada para relationship manager. Lagipula para relationship manager tetaplah manusia, mereka juga punya faktor kelelahan, godaan gaya hidup, dan terutama emosi.

Akhir kata, semoga kasus MD ini menjadi pelajaran berharga yang sangat mahal bagi industri perbankan prioritas dalam mengevaluasi kembali sistem prosedur kerja mereka, terutama juga sistem audit mereka. Salam.

Senin, 28 Februari 2011

Kembalikan Fungsi Bank Sebagai Agen Pembangunan

Belakangan ini jarang sekali didapati bank-bank yang memberikan kemudahan kredit ataupun pinjaman modal kepada para pengusaha kecil. Baru sesudah krisis finansial global 2008 kemarin bank-bank berebut mencari nasabah kredit dari sektor UMKM maupun pengusaha-pengusaha bermodal kecil lainnya.

Namun itupun masih banyak tantangan dan halangan yang dihadapi, dari mulai tuntutan lama usaha, jaminan pinjaman yang memadai dan lain sebagainya. Belum lagi masalah tingginya suku bunga kredit dan masalah kesulitan nasabah menyusun rencana pengembangan dan neraca keuangan perusahaan secara baik dan benar.

Berkaca dari kasus salah satu direktur bank BUMN yang dipenjara karena kasus pemberian kredit yang menjadi macet, semakin menciutkan nyali para bankir utamanya bank-bank plat merah untuk memberikan kredit bagi para pengusaha yang memiliki bisnis kurang prospektif. Padahal setelah berjalan sekian lama, justru kasus kredit macet yang menyebabkan sang direktur Bank BUMN itu masuk penjara, justru berubah menjadi kredit lancar setelah diadakan proses negoisasi ulang dan penjadwalan ulang proses pelunasan hutang tersebut.

Padahal sang tokoh pimpinan bank tersebut, didakwa oleh jaksa yang tidak mengerti seluk-beluk perbankan dan ekonomi, sebagai koruptor. Sementara dalam dunia bisnis adalah lumrah jika terjadi kemacetan pembayaran kredit, dan bukannya harus terburu-buru diklaim sebagai kelalaian, melainkan harus diselidiki terlebih dahulu mengapa bisa macet, dan apa faktor-faktor penyebabnya.

Proyek-proyek besar skala nasional sekalipun, banyak yang pembayarannya terkadang memerlukan penjadwalan ulang karena satu dan lain hal, terutama seperti krisis ekonomi tahun 1997-1998 ataupun krisis finansial tahun 2008. Dan itu lumrah-lumrah saja, kecuali memang sejak awal riset kreditnya tidak feasible.

Secara tidak langsung, hal ini telah menyebabkan banyak bisnis-bisnis jangka panjang dan strategis jatuh ke tangan perbankan asing, yang justru melihat celah dan kesempatan ini karena ketakutan tersendiri dari kalangan perbankan lokal, dan tidak ditunjang oleh regulasi dari otoritas perbankan itu sendiri.

Dan ini sangat berbahaya sekali, karena jika terjadi masalah, maka perusahaan-perusahaan lokal akan dengan sangat mudah berpindah tangan menjadi milik asing dan atau dicaplok oleh perusahaan tandingannya.

Jika dulu pada masa-masa awal kemerdekaan hingga orde baru kita banyak melihat industri-industri strategis maupun para pedagang kecil dibiayai oleh perbankan lokal, sekarang sulit sekali melihatnya. Banyak pengusaha yang butuh permodalan yang kuat, namun tidak ada perbankan yang mau turun tangan kalau tidak ada jaminan ataupun melihat ketidaksanggupan usaha tersebut membayar suku bunga kreditnya yang sangat tinggi.

Sebagai contoh, industri garmen dan alas kaki, seringkali dipandang sebelah mata oleh perbankan lokal dan dikatakan sebagai sunset industry, padahal apa itu definisinya sunset? Apakah mereka mengerti bahwa industri seperti ini memang cenderung untungnya kecil, namun pembayaran justru lebih lancar, karena material dan bahan baku sudah didukung oleh principal ataupun pembeli dan diberikan kemudahan jaminan letter of credit (L/C). Apalagi jenis industri ini paling lama term pembayarannya adalah sekitar 45 hari.

Ketidaktahuan akan hal-hal seperti ini yang pada akhirnya bisa memukul balik perekonomian kita yang terlalu kapitalis dan berorientasi kepada pasar modal. Hanya mementingkan untung dan rugi, tidak memperhitungkan pembangunan ekonomi secara jangka panjang. Padahal kita perlu penyerapan tenaga kerja secara masif guna meredam angka pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Belum lagi masalah tingginya suku bunga di tanah air, dengan berbekal alasan inflasi lantas dilakukan pembiaran rezim suku bunga.

Padahal inflasi bisa diredam tidak melulu hanya dari suku bunga, melainkan juga perbaikan sarana infrastruktur, regulasi, kebijakan-kebijakan jangka panjang dan lain sebagainya yang saling berkait satu sama lain. Untuk itu penting kiranya semua menteri dan departemen terkait duduk satu meja membicarakan dan mengkomunikasikan permasalahan yang ada bersama-sama, tidak lagi jalan sendiri-sendiri.

Seringkali kenyataan di lapangan didapati, kebutuhan akan material bahan baku terhambat karena regulasi dari salah satu instansi kementrian tidak mendukung proses kerja yang dibutuhkan. Padahal kalau saja antar instansi dan departemen saling mau bekerjasama dan membangun strategi yang saling mempercepat proses kerja, tentu tingkat pertumbuhan ekonomi bisa lebih baik lagi dari tahun-tahun sebelumnya.

Untuk itu kembali lagi kepada permasalahan awal, perlu digalakan koordinasi antar instansi dan pengembalian fungsi perbankan sebagai agen pembangunan, agar hambatan-hambatan dalam ekonomi dalam negeri bisa diperbaiki dan taraf kehidupan rakyat dapat lebih membaik.

Protected by Copyscape Online Copyright Protection

Rabu, 23 Februari 2011

Strategi Kolaborasi Microsoft dengan Nokia, Bunuh Diri atau Kebangkitan?

Bersamaan dengan diumumkannya rencana jangka panjang kerjasama antara Microsoft dengan Nokia dalam bentuk strategi pasar smartphone Windows Phone 7, banyak komentar-komentar sinis dan pesimis akan masa depan telefon genggam yang satu ini.

Namun demikian tidak sedikit analis pasar yang setuju dengan rencana kerjasama antar kedua brand besar tersebut, karena di pasar software nama besar Microsoft masih merajai meskipun sedikit demi sedikit mulai digerogoti oleh para pesaingnya, hanya saja untuk urusan smartphone, operating system Windows Phone sudah mulai ditinggalkan oleh para developer smartphone.

Sedangkan Nokia sendiri, secara statistik masih merajai pemasaran telefon genggam di seluruh dunia, meskipun pasarnya semakin mengecil dan di arena high end smartphone sudah mulai dihantam oleh para pesaing beratnya dari mulai Apple hingga berbagai macam merek smartphone berbasis Android OS.

Nokia secara Supply Chain Management masih merupakan rajanya di bisnis ini, ketersediaan jalur-jalur pasokan dan distribusi yang solid serta marketing yang gencar masih merupakan yang terbaik meskipun sekarang sudah mulai dikalahkan oleh Apple yang sukses membangun kerjasama yang baik dengan para retailer dan membangun komunitas yang solid.

Hanya saja, sangat disayangkan jika guna meraih kembali kejayaan di pasar smartphone Nokia harus repot-repot mengambil jalan pintas berkolaborasi dengan Microsoft. Sebab Nokia memiliki Ovi Store yang dipersiapkan untuk menghantam Apple Store dan iTunes.

Justru seharusnya Nokia mendevelop sendiri software-nya secara in house, agar mampu bersaing melawan Apple baik dari segi biaya produksi maupun stabilitas operating system. Sebab banyak keunggulan Apple justru didapat dengan membangun komunitas sendiri dan in house development. Bahkan hampir seluruh piranti Apple hak cipta dan desain hardware nya ada pada Apple Inc.

Mungkin dengan berfikir lambatnya pengembangan MeeGo dan Symbian^3/Symbian^4 serta kesulitan-kesulitan dalam pengembangan komunitas yang ada, menjadikan Nokia mengambil jalan pintas strategi kolaborasi ini, apalagi CEO yang sekarang merupakan eks orang Microsoft.

Memang jalan masih panjang, dan sesuai janji Nokia dan Microsoft sendiri, smartphone hasil kolaborasi ini akan tersedia dalam berbagai variasi harga dari mulai murah hingga mahal. Jadi kita lihat saja, apakah hal ini akan berhasil atau tidak, semoga saja masalah pada update operating system Windows Phone 7 tidak menjadi batu sandungan bagi pengembangan kolaborasi ini.

Jumat, 28 Januari 2011

Quality at affordable price

Perhaps, none of person who work in European car manufacture ever realize that some day cheap Japanese car can crush their market share in luxury premium class sedan. But instead of worrying their rival from Japan, most people who work in European car manufacture still think that most luxury market belongs to them.


Until someday, when Toyota launched Lexus for the first time, and Nissan released Infinity to global market and Honda start with Acura, then everything change and turn European car manufacture market from majority into common and some even into minority player.


The success behind those Japan car manufacture is not about how good they are, but it's all about reliability at affordable price, good enough but still can save some money in your pocket.


It is the same condition now with Korean manufacture. In the past, most Asian country still think Korean car manufacture is nothing except problem. But these day, manufacture from Hyundai and others can prove with some new model that slowly but sure change that image.


Even in the electronic industries, most of Korean company already a big problem for Japan electronic manufacture like Sony, Pioneer, Panasonic and others.


Slowly but sure, some Japan electronic manufacture have use some parts from Korean company. Even company like Samsung has conquer some Japan model, like LED Samsung C9000 has been a serious threat for Sony Bravia NX series.


This is something that 10 years ago none of us will believe that it would be happen someday.


But if you think that is enough, then you are wrong. Now even China company already start their revolution in high end industry. From stealth jet fighter that use some parts from Russia, to electronic industry like Changhong. Yes, Changhong, even I laugh when first time my friend said that brand.


In reality, Changhong did the same path like first time LG do. Both of them, for the first time, play in low class segment, but day by day, they start to improve their skill, their knowledge and even their vision.


My lecture in management school ever asked, "what is the difference between USA company and Japan company?". The Japan and most Asia company, they change step by step, doing some evolution not revolution.


It is the same situation that actually apply in our country. Do you know Toyota - Kijang? Have you ever know, that before it evolute into Toyota - Innova, it was a trial project using some unused engine parts from Toyota? I even surprised that the old Toyota Kijang from first generation that once used by my neighbor was a project car. But imagine how far that evolution has become from trial-error project into fly by wire MPV?


Yes, these day the new Innova use fly by wire technology in their gas throttle like many modern car these day. It is something that even the first team who build Kijang never dream of. And because of that, many driver still do wrong how to drive their car in correct way, instead of push the gas pedal slowly, they still do in hard way like it was in old days, and they complaining about how fast the fuel drop, that actually happen because their bad driving skill.


Now the lesson that we can learn from this story are:

  1. Major people in the end still look for price, even in luxury market, if there is a goods/services that can give pleasure and satisfy them both in quality and affordable price, consumer will do pick up that thing.
  2. Industry need to do evolution, if not, they will lag behind or die in market competition.
  3. To stay in very niche luxury / premium market, you cannot stand only with quality, but have to use many things, from prestige and exclusivity, lifestyle, community (like most brand name use this day), and later, fanatism. Because in the end, only fanatism can bend your logic :)


Protected by Copyscape Online Plagiarism Detector

Minggu, 02 Januari 2011

Sekilas Outlook Perekonomian 2011

Sidang Pembaca yang terhormat, tidak terasa kita telah memasuki di hari ketiga tahun 2011. Melihat dan merasakan apa yang telah kita alami selama tahun 2009 dan 2010, penting kiranya bagi kita untuk semakin mencermati dan mengevaluasi strategi bisnis yang tepat guna menghadapi permasalahan di tahun 2011 ini.

Berikut, kami akan menyampaikan sekilas mengenai perkiraan kondisi perekonomian di tahun 2011 yang penuh tantangan ini:

  1. Inflasi => Diperkirakan tingkat inflasi tahun 2011 akan semakin naik, terutama dengan melonjaknya inflasi di akhir 2010 akibat kenaikan harga komoditas pangan terutama cabai, dan juga faktor cuaca ekstrim yang menyebabkan penurunan produktivitas di sektor pertanian. Faktor spekulasi dan permintaan di pasar minyak juga menyebabkan lonjakan harga komoditas tambang yang turut memicu inflasi secara global.
  2. Nilai tukar => Dollar diperkirakan akan tetap lemah terhadap beberapa mata uang utama dunia lainnya karena pemerintah Amerika akan terus mengintervensi pasar dengan pembelian kembali berbagai surat berharga milik mereka dan juga terus-menerus dilakukannya cetak uang guna membiayai defisit perekonomian Amerika yang semakin membengkak, sementara pelarian modal ke negara-negara emerging market terutama Indonesia terus terjadi sebagai dampak memburuknya pasar ekonomi Eropa dan belum stabilnya perekonomian Amerika.
  3. Pasar Modal => Laju indeks saham gabungan diperkirakan akan semakin meroket akibat euforia pasar saham disebabkan banjirnya hot money dari Amerika dan Eropa dan sejumlah investor global, sehingga menimbulkan ketegangan yang sangat tinggi di pasar modal, di mana harga saham akan semakin tidak wajar dan menimbulkan risiko kejatuhan yang sangat tinggi jika indeks terus menerus melaju tanpa disertai koreksi yang wajar. Selain itu kenaikan harga SUN (Surat Utang Negara) sudah mencapai level puncaknya akibat pembelian oleh asing secara terus menerus semenjak tahun 2009, dan menyebabkan imbal hasil yang ditawarkan tidak menarik lagi. Jika inflasi ternyata melebihi ekspetasi pasar, dikhawatirkan harga SUN akan jatuh karena faktor kemungkinan naiknya suku bunga perbankan.
  4. Perbankan => Persaingan di dunia perbankan akan semakin ketat dan tinggi, ditandai dengan merger dan akuisisi sejumlah bank, dan turunnya peringkat salah satu bank menjadi BPR akibat tidak mampu memenuhi ketentuan modal wajib mininum. Ketentuan pengumuman suku bunga pinjaman bagi nasabah utama (prime lending limit) untuk perbankan juga dinilai akan merugikan sejumlah bank yang struktur permodalan dan pendanaannya didanai oleh dana deposito jangka panjang. Karena dengan demikian para pesaing maupun nasabah kredit akan segera mengetahui bentuk struktur pembiayaan bank tersebut sehingga melemahkan daya saing bagi bank-bank itu, sebab dipastikan nasabah akan lari mencari bank yang bunga pinjaman kreditnya paling rendah. Sehingga bank-bank dipaksa untuk berfikir lebih cerdas dalam mencari keuntungan usaha baik dengan cara menurunkan suku bunga pinjaman ataupun cara lainnya jika ingin tetap bertahan.
  5. Industri Manufaktur => Masuknya barang-barang import baik yang legal maupun illegal dari RRC, kenaikan tarif listrik dan UMR (Upah Minimum Regional) di dalam negeri dan melambatnya pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara tujuan ekspor, akan menghambat pertumbuhan industri manufaktur dalam negeri terutama mereka yang sangat mengandalkan pengerahan tenaga kerja manusia secara masif seperti industri tekstil / garment dan industri alas kaki. Hal ini akan semakin diperparah oleh pembatasan BBM bersubsidi di mana biaya operasional kendaraan operasi sebagai sarana transportasi baik bus karyawan maupun transportasi internal perusahaan akan membengkak. Dalam hal ini perusahaan harus mulai berfikir penggunaan outsourcing transportasi umum berplat kuning sebagai alternatif transport dan juga penggunaan 3rd party logistics sebagai sarana pengiriman barang baik ke dalam maupun luar perusahaan.
  6. Industri Otomotif => Pembatasan BBM bersubsidi dan pajak progresif juga ditengarai akan memukul sejumlah industri otomotif dalam negeri, selain itu perusahaan juga dituntut melakukan subsidi silang penjualan kendaraan bermotor roda dua dengan kendaraan bermotor roda empat agar pembatasan BBM bersubsidi tidak sampai memukul drastis profit penjualan secara keseluruhan.
  7. Industri Tambang => Tahun ini merupakan tahun berat dan juga tahun kesempatan bagi industri tambang baik dalam maupun luar negeri. Kenaikan harga minyak dunia yang drastis mendekati 100 USD/Barrel memicu kenaikan harga komoditas tambang di seluruh dunia, namun di sisi lain semakin sulitnya ditemukan sumber tambang baru dan tingkat keberhasilan penambangan baru yang semakin rendah turut memperbesar risiko kegagalan industri tambang, meskipun akan menaikan harga bahan tambang secara drastis sebagai dampak kompensasi kelangkaan sumber daya mineral yang semakin susut di seluruh dunia.
  8. Industri Logistik => Di tahun 2011, tantangan dunia logistik akan semakin berat, meskipun pemerintah berencana tidak menaikan BBM bersubsidi, dan mengijinkan industri pelaku logistik yang masih memakai plat hitam untuk konversi ke plat kuning, namun secara keseluruhan biaya operasional logistik akan naik, karena kenaikan UMR dan juga biaya-biaya lainnya. Faktor hidden cost terutama soal biaya siluman di perjalanan maupun pengurusan barang juga menjadi concern bagi dunia logistik tanah air. Dalam hal ini KPK dituntut untuk lebih proaktif memberesi carut marut biaya siluman di sejumlah departemen agar tidak memukul industri tanah air.

Demikian sekilas pandangan kami akan tantangan di tahun 2011 ini, semua ini baru hanya pandangan sekilas semata karena keterbatasan waktu untuk melakukan riset yang lebih mendalam, namun kami berharap baik para pelaku usaha dan pemerintah duduk satu meja memberesi masalah birokrasi yang menjadi hambatan utama berbisnis di tanah air. Karena masalah terbesar adalah masih berkisar di soal kesimpang siuran kebijakan pemerintah dengan kepentingan dunia usaha.

Jakarta, 3 January 2011
The Alexindo Management Consulting
The ALJORB INVESTMENT GROUP Ltd

Protected by Copyscape Plagiarism Detector

Minggu, 26 Desember 2010

Tips Memilih Motivator Yang Berkualitas vs Motivator Pembual

Belakangan ini profesi motivator semakin banyak diburu oleh orang, terutama para pendamba kebebasan finansial, karena hanya modal cuap-cuap, dengan sejumlah besar pengunjung, dalam sehari bisa diraih penghasilan yang fantastis.

Berbagai macam ragam sarana dan topik yang dibuat dan dipilihkan oleh sang motivator guna memancing minat para pengunjung maupun sebagai sarana sosialisasi ide-ide ataupun pengetahuan mereka. Dari mulai yang berbicara mengenai pemasaran, ekonomi, saham, valas, kecantikan, lifestyle, dan seribu satu macam lainnya.

Namun banyak juga para peserta ataupun pengunjung suatu seminar ataupun workshop yang kecewa setelah beberapa kali mengikuti acara sang motivator, dan bahkan merasa telah dibohongi ataupun ditipu dan dibodohi.

Dari beberapa forum, bahkan sampai ada yang mencaci maki seorang motivator pasar modal sebagai penipu dan pembual yang membuat bangkrut para pesertanya. Padahal jika mengikuti aturan sesuai kaidah-kaidah baku ilmu finansial, tanpa harus mengikuti pelatihan dari sang motivator, peserta seminar yang bersangkutan bisa berhasil dan bahkan mungkin lebih baik daripada sang motivator sendiri.

Berangkat dari keprihatinan tersebut, kami memberikan sedikit tips yang mungkin berguna untuk menyaring mana yang motivator pembual dan mana yang tidak:

  1. Hindari pembicara yang senang show off memamerkan hasil kekayaannya atau sering tebar pesona dan tebar amal seperti melempar / membagikan sejumlah besar uang ke hadapan publik , pamer koleksi mobil mewah, dan lain sebagainya. Orang ini tidak lebih dari pembual ala penipu di jembatan penyeberangan Sudirman.
  2. Jangan percaya kepada motivator yang sering menyatakan sesuatu di luar common sense (akal sehat) apalagi logika ilmu pengetahuan dan kaidah ilmu yang dapat dipertanggungjawabkan. Jangan pernah mencerna sesuatu dari seorang pembicara secara mentah-mentah, pelajari juga dari sudut keilmuan dan keilmiahannya, dan coba melihat dan pelajari dari berbagai sudut pandang, percaya hanya kepada omongan satu orang adalah jalan kesesatan.
  3. Lihat dan dalami apa yang dikatakan dan diucapkan oleh sang motivator apakah dia mempraktekan dalam hidup kesehariannya atau tidak. Karena ada motivator yang munafik namun juga ada motivator yang benar-benar sejalan dan selaras dalam perkataan maupun perbuatan. Ada seseorang yang selalu berkoar-koar bahwa dia mendapatkan tubuh indah dari hasil berolahraga, padahal sang dokter bedah kecantikannya sampai menyumpah-nyumpahi orang tersebut karena yang bersangkutan menutupi kenyataan bahwa bentuk tubuh indahnya adalah hasil operasi sedot lemak.

Sebenarnya masih ada banyak lagi tips lainnya, namun kami memandang setidaknya tiga hal di atas adalah hal utama yang harus anda perhatikan dalam menilai dan memilih untuk ikut suatu kursus atau seminar agar uang tersebut jangan hanya memperkaya sang pembicara namun juga memperkaya hidup anda.

Semoga Bermanfaat.

Protected by Copyscape Online Plagiarism Checker

Jumat, 17 Desember 2010

Besar Belum Tentu Lebih Baik

Copyrights ada pada Alexindo Management Consulting dan Alexander Batara, dilarang keras melakukan copy paste dan sharing tanpa seijin penulis.

Mencermati iklan - iklan dari para provider selular belakangan ini, nampak sekali adanya usaha untuk promosi jaringan selular mereka dan menawarkan solusi broadband baik untuk penggunaan internet secara umum maupun solusi bisnis berbasis broadband.

Sekedar penyegaran kembali, dalam internet dan broadband multimedia, kualitas jaringan tidak semata ditentukan oleh besarnya bandwidth anda ataupun banyak sedikitnya BTS milik anda. Karena boleh-boleh saja provider X memiliki BTS hingga 1 juta menara dan backbone bandwidth hingga 1TB/s ke jalur backbone Amerika, namun jika jumlah BTS itu tidak memenuhi ratio normal antara kepadatan pengguna di sekitar menara terhadap jumlah BTS nya maka semua itu sia-sia belaka, belum lagi masalah traffic management bandwidth, di mana kualitas jaringan ditentukan oleh kelancaran stream data baik upload maupun download.

Salah satu provider selular terbaik yang baru-baru ini terpilih ternyata bukan yang terbesar, bahkan termasuk yang biasa-biasa saja meskipun bandwidth nya sendiri tergolong nomer 2 terbesar. Namun provider ini punya teknik sendiri dalam memanajemeni jaringan internetnya. Terbukti dari signal nya yang selalu penuh, dan ratio kecepatan internetnya cenderung stabil meskipun di jam-jam sibuk, sehingga banyak orang setia berlangganan blackberry pada provider selular ini.

Jika berguru kepada pakar nya internet bandwidth di Indonesia, yakni CBN, anda tentu tahu mengapa perusahaan ini sangat mati-matian menjaga QOS (Quality of Service) nya. Mereka bahkan pada masa-masa awal sangat membatasi pertumbuhan jumlah user terhadap ketersediaan jaringan baik pada bandwidth maupun pada jalur modem pool nya. Memang harga yang ditawarkan relatif tidak murah, namun anda mendapatkan kualitas yang sesuai dengan harga.

Price war atau perang harga pada layanan produk broadband terutama yang berbasis selular pada akhirnya bukanlah solusi, melainkan bisa mengakibatkan ekonomi biaya tinggi pada operasional perusahaan. Karena biaya pengembangan jaringan tidak sebanding dengan pendapatan yang diperoleh. Anda boleh berkata improvisasi pendapatan dari layanan ringtone dan lain sebagainya, namun menjaga kualitas layanan jaringan adalah hal yang berbeda, karena biaya terbesar dari servis jasa ini adalah pada komponen quality services jaringan nya dari mulai backbone, ratio BTS per regional user hingga ke manajemen jaringan itu sendiri.

Yang harus dicermati lagi adalah, jumlah user yang besar bukan berarti pendapatan anda juga besar, karena semakin banyak investasi pada alat dan jaringan maka cost operasional nya juga semakin besar. Inilah mengapa tidak mudah menjaga dan memanajemeni perusahaan dalam skala raksasa. Belum lagi biaya mendidik dan melatih para backoffice dan para call centre officer yang bertugas 24 jam terus menerus. Mereka dituntut untuk tetap sigap dan segera melakukan perbaikan terhadap masalah yang dikeluhkan oleh para pelanggan.

Hal serupa juga berlaku pada layanan perbankan, biaya pelatihan dan investasi peralatan serta infrastruktur adalah hal terbesar yang harus diperhatikan baik-baik karena sifat dari industri jasa itu sendiri yakni customer satisfaction. Jangan karena nafsu mengejar pertumbuhan pelangganan dan pengguna jasa, lantas mengabaikan kesiapan infrastrukturnya. Karena sekali saja pelanggan tidak puas, mereka akan mudah beralih ke pesaing yang potensial.

Protected by Copyscape Online Plagiarism Checker