Kamis, 21 Juli 2011

Seberapa Perlukah Koneksi LTE di Indonesia ?

Beberapa hari ini, pikiran saya selalu terusik membaca gembar-gembor beberapa provider selular di Indonesia akan rencana mereka melakukan investasi LTE di Indonesia. Bahkan sampai ada yang sudah melakukan ujicoba di dalam negeri bukan sekedar memantau test di luar negeri.

Sejujurnya, LTE tidak bisa memecahkan permasalahan bandwidth bottleneck dari traffic internet di jaringan selular provider-provider tersebut. Bahkan yang terjadi LTE hanya menjadi jargon pemasaran ketimbang layanan jasa yang sesungguhnya.

Mengapa? Karena untuk jaringan HSPA + saja yang bekecepatan 21 Mbps, idealnya sudah lebih dari cukup untuk transfer video streaming youtube kualitas 1080p dan 720p, karena video youtube rata-rata bitrate full hd nya tidak lebih dari 18 Mbps. Kebanyakan hanya sekitar 10 Mbps.

Suatu ironi dan kelucuan yang menyesatkan konsumen layanan jasa broadband selular di Indonesia, karena bahkan rata-rata kecepatan tertinggi jaringan HSPA + maupun DC HSPA (Dual Carrier High Speed Protocol Access) hanya berkisar antara 384 kbps hingga 1 Mbps. Beberapa pengujian pribadi yang saya lakukan menggunakan modem maupun telefon selular HSPA, hanya mentok di speed rata-rata 1 Mbps, kecepatan 2 Mbps sendiri sangat langka, hanya sesekali saat browsing saja, tidak pernah saat download apalagi upload yang rata-rata dibatasi hingga 120 kbps.

Justru, salah satu operator selular besar ada yang mengakui terpaksa menambah jumlah BTS di kawasan Indonesia Timur agar sms tidak mengalami delay. Bayangkan, hanya untuk sms saja masih mengalami delay, apalagi layanan data? Jangankan di kawasan Indonesia Timur, para pengguna selular di Jakarta sendiri sering mengalami lag sms pada akhir tahun / tahun baru ataupun hari raya.

Yang perlu dilakukan oleh para provider selular itu untuk meningkatkan kecepatan akses layanan data dan jumlah pelanggan layanan data, adalah melakukan manajemen bandwidth baik secara sistem, software maupun hardware dan terutama ketersediaan jumlah BTS yang memadai dengan rasio user pengguna di daerah tersebut.

Jangan pikirkan masalah rugi investasi BTS dulu, karena namanya pembangunan infrastruktur BTS jelas memakan biaya tinggi, tapi pikirkan proyeksi investasi jangka panjangnya dan keuntungan jika layanan broadbandnya tercukupi. Percuma membangun satu dua pemancar LTE jika pemakai internet selular bisa mencapai 120 juta penduduk misalnya. Lebih baik seluruh pemancar BTS 3G dan 3.5G dioptimalkan jumlah dan kapasitasnya.

Sampai saat ini belum ada layanan selular broadband yang mendapat respek secara baik oleh mayoritas pengguna, selalu saja muncul keluhan dari mulai blankspot area hingga buruknya kualitas signal dan transfer data.

Bandingkan jika misalkan anda berada di luar negeri, tidak usah dengan Singapore, dengan Thailand saja layanan EDGE mereka rata-rata lebih baik ketimbang layanan 3G kita. Ini suatu bentuk ironi, bahwa kita hanya mengejar investasi semu dan buang-buang uang secara percuma demi mengejar pencitraan perusahaan ketimbang berfikir secara bijak mengenai pemecahan masalah secara total.

Padahal, yang namanya bisnis jasa, sangat tergantung dari kesiapan bagian operasional dan infrastruktur operasionalnya itu sendiri. Tanpa harus dengan gembar-gembor pemasaran yang dahsyat, konsumen sudah cerdas untuk memilih operator yang layanan kualitasnya baik dan terpercaya. Tanpa dukungan jaringan yang baik, hanya mengandalkan jargon LTE, bisa dipastikan itu akan menjadi pukulan balik yang memalukan citra perusahaan itu sendiri. Semoga bisa menjadi bahan renungan bagi semua operator selular.

Kamis, 14 Juli 2011

Jika Amerika benar-benar gagal bayar hutang

Beberapa malam yang lalu, dalam suatu acara pertemuan antar para nasabah private banking di salah satu hotel mewah di kawasan ibukota, mencuat kekhawatiran para pemegang uang bahwa Amerika benar-benar akan mengalami default. Bahkan beberapa investor kelas kakap, sempat gempar ketika pembawa acara menyampaikan bahwa dollar sudah tamat riwayat, dollar is a dying currency, begitu ujar seorang ekonom terkenal.

Padahal, jauh sebelum itu, saya sudah pernah menulis di kompasiana, bahwa suatu saat Amerika akan hancur dan dollar akan jatuh ditinggalkan oleh banyak investor maupun bank sentral di seluruh dunia.

Namun akhirnya waktu juga yang menjawab, kini di hari-hari terakhir ini, begitu banyak investor cemas dan panik akan nasib mata uang yang pernah jaya ini. Akibat kepanikan itu, harga emas diramalkan akan melonjak hingga USD 1600 per troy ounce di akhir tahun.

Saya sendiri termasuk yang percaya, suatu saat harga emas akan terbang ke level 5000 USD per troy ounce, ini bukan mengarang-ngarang, tapi Amerika punya keterbatasan finansial dan cetak uang. Jika Amerika terus menerus cetak uang, sementara kemampuan plafon kreditnya (meskipun dinaikan beberapa kali) juga terbatas, suatu saat mata uang ini akan kolaps dan bernasib sama dengan Zimbahwe.

Sementara hari-hari-hari ini kita semua cemas dan gigit jari menanti keputusan final apakah Presiden Obama berhasil meyakinkan kongres Amerika agar usulannya untuk merevisi budget dan melakukan pemangkasan anggaran, menaikan pajak serta menaikan plafon kredit berhasil disetujui oleh parlemen atau tidak.

Lantas bagaimanakah dengan Indonesia? Apakah negara kita akan terimbas, dan seberapa parah imbasnya bagi negara kita? Pertama-tama harus dilihat dulu, bagaimana struktur makro perekonomian negeri kita yang tercinta ini. Indonesia adalah pengekspor energy dan komoditas, dari mulai gas, batu bara, CPO (minyak kelapa sawit), logam dan mineral hasil tambang serta lainnya. Kita juga mengekspor beberapa kebutuhan sandang, seperti sepatu, pakaian, tas, kulit mentah (untuk diolah menjadi bahan baku tas dan sepatu), dan lain sebagainya.

Saat ini, Amerika masih menjadi salah satu tujuan utama ekspor kita, jika Amerika guncang kembali, tentu saja ekspor kita akan terpukul. Namun kita masih punya pasar dalam negeri yang kuat, meskipun banyak pihak baik pelaku industri maupun pengamat ekonomi pesimis akan kemampuan daya serap pasar dalam negeri. Justru di sini peranan penting pemerintah dalam menjaga stabilitas daya serap hasil industri oleh konsumen dalam negeri untuk terus tetap dijaga.

Di sisi lain, kita adalah importir minyak, sedikit banyak anggaran belanja negara kita ditentukan oleh fluktuasi harga minyak dunia. Jika pertumbuhan ekonomi gagal atau melambat, harga minyak akan turun kembali, dan anggaran pengeluaran negara kita akan membaik. Namun ekspor non minyak kita juga akan terpukul, karena harus dialihkan ke negara lain, atau jika tidak laku, ya terpaksa di konsumsi dalam negeri.

Lantas bagaimana dengan bursa saham dan pasar uang di dalam negeri? Hal ini tidak perlu terlalu dicemaskan, saat ini kita kebanjiran hot money dalam jumlah fantastis sepanjang sejarah. Seandainya pasar terguncang hebat, rupiah dan pasar modal memang akan goyang sebentar, tapi pada akhirnya, pasar akan bersikap rasional, dan kembali memburu asset-asset di emerging market yang memiliki fundamental ekonomi yang sangat kuat. Dan saat ini di seluruh dunia hanya ada dua emerging market yang menarik, yakni Brazil dan Indonesia. Brazil sendiri tidak begitu disukai karena mengenakan pajak atas aliran hot money. Indonesia tidak, tentu saja uang akan lebih deras mengalir ke Indonesia sesudah pasar sadar tidak lagi bisa berharap ke ekonomi negara-negara maju.

Yang menjadi pertanyaan sekarang, apakah pemerintah kita sudah siap mengantisipasi aliran hot money ini? Saat ini yang benar-benar sangat dibutuhkan oleh para investor adalah ketersediaan infrastruktur dari mulai listrik, jalan raya, jalan tol, rel kereta api, transportasi massal sekelas MRT Skytrain dan MRT Subway selain Busway, dan juga infrastruktur kawasan-kawasan industri di luar jawa agar terjadi pemerataan pembangunan.

Kenyataannya, daya serap kita terhadap aliran hot money ini sangat lemah, bahkan setiap tahun selalu terjadi kelebihan anggaran di mana anggaran belanja tidak terserap oleh daerah karena lemahnya implementasi pembangunan infrastruktur akibat benturan berbagai kepentingan dan proyek-proyek titipan. Semoga kita semua sadar, bahwa pada saatnya kita harus meninggalkan budaya proyek dan korupsi dan mulai memikirkan kemajuan negara kita bersama-sama. Salam.

Jumat, 08 Juli 2011

Change Management: antisipasi, inovasi, dan perubahan, sebagai kunci keberhasilan bisnis dan organisasi dalam jangka panjang

Sepanjang tahun 2008 hingga 2011 ini, kita seringkali melihat nama-nama besar di industrinya masing-masing timbul tenggelam silih berganti. Merek-merek yang di era sebelum krisis 2008 berkibar layaknya jumawa, pada tahun 2011 banyak yang mengalami kerugian dan kejatuhan harga sahamnya. Bahkan ada beberapa merek besar yang diramalkan akan menghilang dalam 20 tahun ke depan.

Berhasil tidaknya suatu bisnis dalam jangka panjang, sangat tergantung kepada visi dari perusahaan tersebut, apakah bisa mengantisipasi perubahan pasar dan mengikuti dan bahkan memimpin arus perubahan selera pasar atau tidak.

Seringkali orang berfikir hanya dari sisi aspek keuangan atau aspek operasional saja, namun melupakan strategi bisnis dalam jangka panjang. Ketika suatu usaha mulai beranjak besar dan menggurita, seringkali melupakan bahwa dalam bisnis tidak ada yang kekal, layaknya suatu bentuk kehidupan akan mengalami fase penuaan dan kemunduran bahkan kematian jika tidak di antisipasi dengan baik.

Benar kita memerlukan quality control ala six sigma quality, dan juga supply chain management yang baik mengacu kepada standar SCOR (Supply Chain Organization Reference) Model, namun itu semua tidak ada artinya tanpa antisipasi perubahan bisnis dan juga inovasi dan perubahan dalam industri itu sendiri.

Sales, dan Marketing Strategic harus merupakan implementasi visi jangka panjang terhadap antisipasi perubahan pasar dan harus berisikan sejumlah inovasi dan perubahan dalam industri tersebut.

Begitupula dengan rencana operasional dan strategi operasional perusahaan, termasuk di dalamnya struktur bangun organisasi perusahaan, harus terus berubah seiring dengan perubahaan pasar yang sangat pesat.

Jika dulu suatu model bisnis lebih berorientasi kepada SILO model, saat ini, suatu bisnis dituntut untuk berubah mengikuti stream model bisnisnya. Ambil contoh, pada industri manufaktur, jika dahulu suatu pabrik terbagi-bagi atas divisi-divisi dari mulai operasional, keuangan, pemasaran, HRD dan lain sebagainya, saat ini banyak industri manufaktur dituntut untuk mengaburkan batasan antar divisi dan melakukan perubahan dalam struktur bidang organisasinya. Ada banyak industri consumer goods dituntut membagi-bagi divisi berdasarkan merek produknya, sehingga tidak aneh jika ada pabrik yang memiliki banyak pegawai keuangan yang terpecah-pecah ke dalam beberapa produk yang berbeda.

Suatu organisasi baik bisnis maupun non bisnis juga dituntut untuk semakin ramping dan fleksibel terhadap perubahan. Ada banyak manajer cabang yang lebih banyak melakukan tugas marketing merangkap operasional dan keuangan dibandingkan waktu yang lalu. Para pekerja dituntut untuk memiliki banyak fungsi dan ketrampilan agar organisasi dapat bertahan terhadap arus perubahan jaman. Ini karena persaingan usaha yang semakin ketat dan beratnya biaya operasional dari tahun ke tahun, sehingga jika suatu organisasi tidak ramping, efisien, dan efektif, maka organisasi tersebut bisa runtuh ke dalam jurang kebangkrutan.

Strategi-strategi pengembangan produk / jasa pun harus selalu mengacu kepada antisipasi perubahan selera pasar tersebut. Contoh paling gampang adalah penjualan bawang. Jika dulu orang banyak yang membeli bawang secara ketengan di pasar, sekarang banyak produk bawang olahan dari mulai bawang goreng hingga serbuk bawang dan juga kapsul berisi ekstrak bawang. Karena ternyata bawang bukan hanya diperlukan sebagai salah satu racikan bumbu dapur, tapi juga menyebar menjadi ramuan obat herbal untuk menjaga kesehatan dan menangkal berbagai penyakit.

Tentu saja dalam menghadapi arus perubahan itu, terkadang banyak individu di dalam organisasi yang tidak siap menghadapi perubahan bisnis dan organisasi. Untuk itu perlu adanya persiapan jangka panjang, dari mulai mempersiapkan orang-orang yang akan menjadi agen perubahan di dalam organisasi, kesediaan para pimpinan perusahaan termasuk komisaris dan pemilik bisnis untuk mengawal dan menjadi pemimpin arus perubahan, hingga fase persiapan perubahan itu sendiri dari mulai pengenalan, penyebaran pengaruh, implementasi hingga sampai ke tahap perubahan itu sendiri.

Siap tidak siap, dunia terus berubah, kita sendiri harus terus berubah, tentu saja ke arah yang lebih baik dan lebih positif. Jangan biarkan virus-virus anti perubahan terus menerus berada dan merongrong garis kebijakan yang telah ditetapkan. Pengaruhi dan ubah virus-virus anti perubahan itu agar mau berubah baik secara sukarela maupun dengan aturan organisasi. Ini agar tahapan transformasi bisnis bisa berjalan sesuai dengan rencana semula dan organisasi bisa berjalan dengan baik dan lancar.

Semoga bisnis dan organisasi anda tetap berkibar di tahun-tahun mendatang, salam perubahan.

Jumat, 24 Juni 2011

Mewaspadai Ancaman Kredit Macet Perbankan

Kurang lebih setahun yang lalu, saya pernah menuliskan artikel mengenai “mewaspadai lonjakan kredit macet di perbankan kita”. Agaknya apa yang saya khawatirkan akhirnya terbukti juga, baru-baru ini salah satu media ekonomi merilis kabar mengenai adanya dua bank asing besar yang NPL nya menyentuh angka 5% dan terancam masuk dalam pengawasan Bank Indonesia.

Bank yang satunya sudah pasti terkena kredit macet di sektor corporate credit, sementara yang satunya lagi masih kurang jelas, apakah terkena kasus di consumer credit seperti KTA ataupun kartu kredit atau justru terkena di kasus kredit korporasi, maklum bank yang satu ini main di semua lini bisnis (wholesale banking).

Padahal justru beberapa waktu yang lalu, salah seorang pejabat tinggi di Bank Indonesia justru menyindir salah satu bank swasta nasional yang cenderung bermain aman dan minim penyaluran kredit. Namun kenyataannya apa yang dilakukan bank tersebut tidaklah salah sepenuhnya.

Pada kenyataannya, benar, sebuah bank harus menjadi agen pembangunan seperti yang pernah saya tuliskan beberapa waktu yang lalu. Namun menjadi agen pembangunan yang seperti apa, dan dalam bentuk penyaluran kredit macam apa yang harus dibahas lebih mendalam lagi.

Memborbardir pasar dengan segala macam kemudahan dan fasilitas kredit, tanpa disertai analisa yang mendalam mengenai model bisnis dan karakter perilaku pelaku bisnisnya, adalah sangat berbahaya. Jika tidak hati-hati, Indonesia justru bisa terjerumus kembali ke model praktik jaman orde baru, di mana jor-joran pemberian kredit menyebabkan kejatuhan yang dalam saat terjadi krisis Asia tahun 1997 /1998 tempo hari.

Itulah pentingnya pengelolaan sumber daya manusia harus diperhatikan benar-benar, jangan sampai kecolongan karena lemahnya faktor sumber daya manusia sehingga menyebabkan bank-bank yang ada mengalami masalah dalam penyaluran kreditnya.

Di sini peran bank sentral sangat diperlukan guna mengevaluasi kembali kebijakan dan peraturan serta pembinaan bank-bank nasional baik swasta maupun BUMN, baik asing maupun lokal. Karena lemahnya pembinaan sumber daya dan kurang optimalnya peraturan bisa menyebabkan instabilitas dalam kerangka ekonomi makro.

Akhir kata, perlu dipikirkan dan dievaluasi kembali, kebijakan penyaluran dan kemudahan kredit seperti apa yang sebaiknya dilakukan dan bagaimana model pelaksanaannya di lapangan agar di satu sisi tidak menghambat pembangunan namun di sisi lain tidak menyebabkan ekonomi dalam kondisi labil dan rapuh.

Minggu, 12 Juni 2011

Swordfish dan Lemahnya Sistem Keamanan Finansial Dunia

Ada yang pernah ataupun sudah pernah menonton film Swordfish? Film action thriller berlatar belakang mengenai aksi meretas sistem keuangan internasional tersebut merupakan salah satu film favorit saya yang tidak pernah bosan saya tonton berulang kali sejak pertama kali saya tonton tahun 2001 lalu.

Film ini mengisahkan bagaimana seorang bos mafia (diperankan oleh John Travolta) yang merekrut paksa seorang mantan hacker (diperankan oleh Hugh Jackman) guna membobol jaringan keuangan internasional melalui aksi peretasan secara online menggunakan beberapa unit super komputer secara bersamaan.

Kisah sukses tokoh Gabriel Shier (John Travolta) memindahkan uang tersebut ke rekening pribadinya di Monte Carlo, mengingatkan kembali kepada penulis mengenai pentingnya sistem keamanan finansial dalam institusi keuangan baik secara sistematis maupun elektronis.

Hal tersebut bahkan terbukti dari peristiwa yang baru-baru ini terjadi di mana sistem keuangan salah satu bank internasional dibobol oleh hacker yang mengakibatkan bocornya data nasabah mereka, dan bahkan kabarnya sistem lembaga keuangan dunia sekelas IMF pun telah berhasil ditembus oleh aksi para peretas online ini. Konon World Bank sampai harus memadamkan jaringan online nya yang terhubung dengan IMF agar tidak ikut dibobol.

Lantas bagaimana dengan di Indonesia? Setelah aksi carder kartu kredit yang marak beberapa waktu yang lalu di Indonesia, awal tahun 2010 lalu pun perbankan Indonesia mengalami kehebohan dengan maraknya aksi fraud dan pembobolan jaringan ATM di beberapa bank di tanah air. Salah satu bank bahkan sampai mengalami kerugian milyaran rupiah akibat aksi penjahat pembobol jaringan ATM ini. Hal ini belum termasuk dibobolnya jaringan internet banking salah satu bank swasta yang agak lumayan besar yang konon sistem keamanannya sangat lemah, namun hal tersebut tidak diakui oleh salah satu bank swasta tersebut.

Padahal aksi hacking baik melalui jaringan internet maupun atm dan transaksi kartu kredit melalui merchant ataupun secara online adalah kejahatan serius yang tidak bisa dianggap remeh ataupun dipandang sebelah mata. Sistem keuangan di Indonesia baik perbankan, sekuritas, asset management maupun asuransi harus bersatu membahas standar kemananan elektronis yang baku dan sangat aman. Karena biaya untuk implementasi dan pengembangan sistem keamanan jaringan sangat mahal, baik dari segi biaya maupun risiko kegagalan jika sampai terjadi pembobolan.

Otoritas moneter dan bursa tidak bisa tinggal diam hanya menyaksikan pembobolan demi pembobolan terjadi, sekarang mungkin masih di luar negeri, namun cepat atau lambat aksi tersebut akan semakin marak di negara lain termasuk kemungkinan marak terjadi di Indonesia. Jika sebelumnya cara pembobolan masih tradisional dengan mengintip password dan scanning kartu atm, beberapa waktu kemudian akan lebih dahsyat lagi jika tidak segera dilakukan antisipasi sejak awal.

Hal ini perlu diingat dan ditekankan berulangkali, karena dunia semakin lapar dan ketimpangan sosial semakin tinggi, sehingga tingkat kejahatan akan semakin tinggi, karena akan lebih banyak lagi orang yang putus asa dan mengambil jalan pintas melalui cara-cara tindak kejahatan termasuk aksi pembobolan sistem keuangan. Semoga kita siap menghadapi tindak kejahatan online yang semakin merajalela ini.

Senin, 16 Mei 2011

Bisnis barang kualitas Super KW (Tiruan) ala Korea

Jika anda penggemar tas bermerek terkenal, ataupun garment dan sepatu terkenal, tahu kah anda, bahwa barang-barang tersebut banyak dipalsukan. Di antara begitu banyak pemalsuan barang-barang berkualitas dan citra rasa seni yang tinggi tersebut, apakah anda tahu, bahwa peniru nomer satu produk-produk terkemuka itu adalah industri pemalsu barang dari Korea.

Barang-barang palsu dan tiruan asal Korea tersebut memiliki tingkat ketrampilan dan kerumitan yang sangat tinggi, nyaris 100% sama dengan barang aslinya. Hanya dibeberapa bagian tertentu nampaknya sengaja dibuat sedikit berbeda dari aslinya, agar orang tetap tahu beda asli dengan palsunya. Namun pemilihan bahan hingga ke model produk semua sama persis.

Jika katakanlah tas merek X asal Italia berharga asli 3 juta - 5 juta rupiah, maka produk super kw asal negeri Ginseng itu bisa berharga 1 juta rupiah. Jauh lebih mahal ketimbang barang tiruan asal RRC yang katanya terkenal mahir memalsukan barang tersebut. Secara kualitas memang barang tiruan nomer satu asal Korea, memiliki tingkat kemiripan dan kualitas yang menyamai produk aslinya, sehingga dihargai lebih mahal ketimbang tiruan produk asal RRC.

Hal tersebut bukan karena orang Korea gemar memalsukan, namun karena mereka memang memiliki keahlian dan kemahiran mengerjakan produk aslinya dan telah lama terbiasa bekerja dalam industri OEM (Original Equipment Manufacture) yang mengerjakan berbagai merek terkemuka dunia. Sehingga ketika kontrak kerja mereka di negara-negara berkembang sebagai tenaga ahli di industri OEM berakhir (kebanyakan merek terkenal memang membuka pabrikan OEM di negara berkembang dengan alasan upah buruh yang rendah), mereka banyak yang berinisiatif membuka sendiri usaha pemalsuan barang berbekal keahlian mereka di masa lalu.

Sebenarnya, hal ini patut disayangkan juga, karena tanpa harus memalsukan barang, mereka punya talenta untuk membuat merek sendiri dengan desain barang tersendiri, namun rupa-rupanya banyak yang memilih mengambil jalan pintas, selain pasarnya lebih jelas, tidak perlu riset dan modal awal yang besar, cukup meniru dan menjual barang-barang tiruan itu di pasar negara berkembang, terutama seperti Indonesia yang penduduknya masih brand minded.

Hebatnya, rata-rata para pemalsu barang ini, sebelum membuat tiruan aslinya, mereka sengaja investasi dengan membeli barang aslinya, lalu kemudian dibongkar dan dipelajari desain, bahan baku dan tehnik pengerjaannya sebelum kemudian dipalsukan dengan kemahiran yang sangat tinggi.

Itu sebabnya, keahlian mereka dalam membuat tiruan nyaris tanpa banding di dunia ini. Seandainya saja mereka mau merintis usaha dengan papan nama sendiri seperti industri elektronik dan otomotif di negara mereka, tentu akan lebih baik lagi.

Jumat, 06 Mei 2011

Sisi Kelam Quantitive Easing dan Ancaman Tsunami Ekonomi

Hancurnya sistem finansial global pada krisis subprime mortgage yang di awali pada kejatuhan di bulan Agustus 2007 dan menjadi krisis ekonomi global di tahun 2008 hingga awal 2009, bukanlah merupakan akhir dari krisis yang pertama kali harus dialami ataupun terakhir kali dialami.

Krisis demi krisis ini hanya merupakan gelombang demi gelombang badai tsunami ekonomi yang semakin membesar dan pada akhirnya bisa menghancurkan seluruh tatanan perekonomian dunia jika tidak disikapi secara bijaksana dan hati-hati.

Program penyelamatan asset-asset keuangan di pasar modal dengan penyuntikan uang secara besar-besaran melalui program Quantitive Easing tahap pertama, bisa dibilang bisa meredam kejatuhan pasar modal dunia ke dalam jurang yang lebih dalam. Namun hal tersebut tidak pernah menyelesaikan masalah yang ada.

Tindakan tersebut hanya sekedar mengobati luka, bukan menyelesaikan akar masalah dari sistem perekonomian yang semakin menderita ketergantungan kepada paper asset dan pengelembungan asset-asset secara fiktif.

Penggelontoran paket stimulus fiskal melalui program Quantitive Easing tahap kedua, dengan tujuan dan maksud agar pemulihan ekonomi berjalan lebih cepat melalui cetak jutaan dollar setiap hari ke pasar finansial, hanyalah upaya memperpanjang nafas sesaat.

Pada intinya ada masalah-masalah yang tidak pernah terselesaikan dalam paket-paket kebijakan tersebut, antara lain, perubahan gaya hidup dan kebangkitan industri riil secara besar-besaran. Yang ada uang-uang tersebut justru menjadi senjata amunisi guna membanjiri pasar finansial di negara-negara berkembang dan senjata spekulasi di pasar komoditas global.

Akibatnya harga minyak dunia kembali terbang ke atas level USD 100-an/barrel selama berbulan-bulan dan harga emas serta berbagai komoditas lainnya termasuk pangan menggelembung ke tingkat yang sangat mengerikan dan membawa dampak inflasi global yang menggerogoti sektor keuangan dan industri di banyak negara termasuk negara-negara dunia ketiga yang menerima banjir uang tersebut.

Nilai tukar dollar sendiri semakin merosot dari hari ke hari, seperti yang pernah kami tuliskan sebelumnya, mata uang ini menjadi semakin tidak populer dan mulai ditinggalkan oleh banyak negara. Hal ini terbukti ketika Russia, Thailand, dan Meksiko beramai-ramai membeli emas sebagai cadangan devisa dalam jumlah yang sangat fantastis mencapai 6 milyar dollar lebih.

Hal ini membawa The Fed sebagai pihak yang dinilai banyak kalangan paling bertanggung jawab terhadap program paket quantitive easing menjadi gamang dan pusing tujuh keliling. Di satu sisi, menyetop program stimulus fiskal dan pengelontoran jutaan dollar ke pasar finansial, akan membawa akibat kemandekan ekonomi karena dunia (tidak hanya Amerika) akan mengalami krisis likuiditas. Namun di sisi lain, cetak uang secara masif juga menjatuhkan dunia ke dalam jurang inflasi berkepanjangan dan krisis komoditas. Walaupun pasar saham menjadi bergerak, namun justru pasar riil tidak terlalu banyak terbantu karena pengangguran tetap merajalela dan ekonomi hanya bergerak sedikit.

Isu kemungkinan akan dinaikannya suku bunga segera saja merontokan harga komoditas baik emas maupun minyak dan perak secara signifikan, dengan pengecualian bahwa jatuhnya harga perak lebih banyak karena kenaikan fasilitas margin, yang membuat banyak spekulan kelas teri terpaksa keluar dari pasar karena takut gulung tikar karena kurang modal.

Isu ini hanya akan terus berputar-putar di sekitaran pasar finansial, namun dengan dampak rontoknya satu per satu industri riil. Karena tujuan yang diinginkan tidak tercapai. Padahal sebenarnya yang dibutuhkan dalam proses pemulihan ekonomi ini adalah adanya pasar tenaga kerja yang cukup dan industri riil yang dapat menampung baik tenaga kerja maupun berproduksi secara masif guna mencukupi kebutuhan konsumen.

Sebab yang namanya proyek-proyek pembangunan infrastruktur hanyalah bersifat sementara, begitu pula dengan berbagai pekerjaan sementara yang diciptakan hanya untuk meredam angka pengangguran, karena begitu stimulus ekonomi ini berakhir, dan mereka tidak bisa diserap oleh pasar, maka yang terjadi justru angka pengangguran akan kembali membengkak dan krisis kembali berulang. Kalaupun banyak yang mengatakan angka pengangguran telah berhasil diturunkan, itu hanya sementara, pada kenyataannya, banyak yang tidak mau melamar kerja karena sudah putus asa akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan dan sulitnya mencari lapangan pekerjaan yang layak.

Celakanya dengan Indonesia, kita terpukau oleh gelontoran uang panas hasil stimulus dari negara lain, dan sudah bangga dengan indikator-indikator semu. Sementara industri riil kita menjerit akibat banjir barang dari negara lain, dan lebih parahnya, daya saing industri dalam negeri semakin merosot, baik karena kurangnya modal, infrastruktur yang buruk, proteksi industri yang memadai dan lain sebagainya termasuk juga impor-impor illegal dari berbagai negara yang masuk melalui jalur-jalur yang dikuasai oleh oknum-oknum tertentu.

Sementara itu angka pengangguran tidak juga berhasil diredam ke tingkat yang relatif aman. Semakin hari angka kejahatan semakin meningkat, premanisme semakin meningkat, dan korupsi serta pemerasan oleh aparat maupun oknum-oknum birokrat semakin meningkat.

Sedikit demi sedikit mulai banyak pabrik yang gulung tikar, ataupun melakukan perumahan karyawan, padahal bulan puasa dan lebaran sudah di depan mata, lebih celakanya lagi, uang panas itu kemungkinan akan pulang kembali ke negara asalnya dalam waktu dekat, sehingga krisis semakin tidak terhindarkan. Walaupun ada kemungkinan paket stimulus QE3 akan segera digelontorkan saat paket QE2 berakhir bulan Juni, namun tetap ada jeda waktu di mana uang panas itu harus kembali dulu ke negara asalnya.

Saat ini, Indonesia hanya benar-benar ketergantungan dari industri pasar modal dan industri kreatif yang walaupun masih kecil namun mulai menunjukan geliatnya. Sementara industri manufaktur dan pangan masih menunjukan tanda-tanda yang kurang menggembirakan. Jangan ditanya soal industri transportasi dan logistik yang mengalami pukulan paling hebat, terutama karena kenaikan harga minyak dan kacaunya infrastruktur transportasi dan logistik.

Apakah kita ke depannya akan melakukan perubahan demi mengantisipasi badai tsunami ekonomi yang mungkin akan terjadi lagi atau tetap diam saja tanpa membuat keputusan yang berarti, tentu saja ini semua berpulang kembali kepada kepemimpinan nasional kita.