Rabu, 12 Oktober 2011

Di Balik Langkah Drastis BI Menurunkan Suku Bunga

Beberapa hari yang lalu, tepatnya hari Selasa 11 Oktober 2011 secara mengejutkan, Bank Indonesia, menurunkan BI Rate ke level 6.5% dari sebelumnya di level 6.75%. Hal ini adalah langkah pertama kalinya penurunan suku bunga di tahun 2011 sejak kenaikan BI Rate pada tanggal 4 Februari 2011 yang lalu.

Langkah ini tentu saja sangat mengejutkan pasar, para ekonom dan pengamat, dan bahkan kalangan bankir baik swasta nasional, swasta asing dan BUMN. Namun tidak semua kalangan terkejut dengan langkah ini. Ada beberapa yang bisa memperkirakan langkah ini, hanya saja semua terkejut karena ini terjadi sebelum tahun 2012, padahal beberapa kalangan perbankan asing memperkirakan penurunan BI rate akan terjadi di kuartal pertama atau kedua tahun 2012.

Namun langkah ini penting dan perlu dilakukan, karena BI kali ini harus lebih proaktif dalam mengantisipasi pasar. Terutama dalam mengantisipasi krisis global yang semakin memburuk dan membebani laju pertumbuhan dan pemulihan ekonomi. Karena dari perkiraan IMF, laju ekonomi global akan melambat menjadi hanya sekitar 4% saja, sementara target pemerintah pertumbuhan harus bisa mencapai 6.6%. Inflasi yang semula menjadi momok, justru akhirnya menjadi kekhawatiran terjadi deflasi.

Sebenarnya langkah berani BI ini, mengundang kerawanan tersendiri, di saat pasar sedang labil, dan para investor cenderung mengamankan asset dollar-nya. Hal ini dikhawatirkan oleh pasar dan juga pengamat dan para ekonom bisa melemahkan rupiah dan menggoyangkan kepercayaan investor.

Hanya saja sebenarnya pasar tidak perlu khawatir. Asalkan saja Bank Indonesia bisa dan mampu menjaga supply dollar di pasar dalam negeri, aktif mengontrol nilai tukar dan aktif menjaga kestabilan pasar surat berharga dan surat hutang negara sebagai standby buyer maka pasar masih bisa mentolerir langkah maju Bank Indonesia ini.

Dan nampaknya hal tersebut yang dilakukan oleh Bank Indonesia dalam beberapa kurun waktu terakhir ini, dari mulai aktif mengintervensi pasar surat hutang, melakukan stabilisasi valas dan juga menjaga supply dollar di pasar dalam negeri. Meskipun langkah mengintervensi pasar obligasi ini mengundang tanda tanya sebagian analisis pasar modal dan perbankan, karena dengan membailout pasar surat hutang, secara tidak langsung kita juga turut membailout investor asing yang sedang memegang surat hutang pemerintah Indonesia.

Namun demikian, langkah intervensi secara proaktif dari Bank Indonesia terhadap pembelian sejumlah surat hutang negara adalah dipandang penting oleh pemerintah sebagai keterlibatan pemerintah dalam menjaga confidence level dari pasar, sehingga para investor tidak panik dan menarik dananya beramai-ramai dari pasar surat hutang negara kita.

Hanya saja yang perlu diperhatikan adalah, Bank Indonesia dan Departemen Keuangan, harus tetap berhati-hati dan awas terhadap perkembangan yang terjadi di pasar, baik dalam negeri maupun luar negeri. Karena situasi sekarang berubah secara cepat dan drastis, belum lagi situasi di pasar uang dan saham yang dipenuhi oleh sejumlah rumor yang turut memperkeruh suasana dan kestabilan pasar. Dengan demikian, kita harapkan semoga para pengambil keputusan tidak salah langkah dalam membuat kebijakan.

Jumat, 07 Oktober 2011

Kejatuhan Rating PIIGS, Quo Vadis Uni Eropa?

Jika masih ada pembaca yang ingat, bahwa kami pernah menuliskan artikel berikut ini “Eropa Pasca Kejatuhan Yunani dan Portugal“ tentu apa yang terjadi sekarang ini bukan hal yang aneh dan mengejutkan. Artikel yang kami tulis lebih dari setahun yang lalu itu, ternyata masih berujung panjang. Ternyata bantuan pinjaman dari Uni Eropa terhadap Yunani tidak menyelesaikan masalah, bahkan semakin lama semakin memberatkan keutuhan Uni Eropa sebagai suatu kesatuan Ekonomi.

Kemarin malam, bursa Amerika diterjang kepanikan, sesudah kredit rating sebagian besar negara-negara PIIGS (Portugal - Irlandia - Italy - Greek - Spain) yang merupakan kawasan Eropa Selatan diturunkan. Sebenarnya, para pemain bursa tidak perlu kaget atau panik, karena hal itu sudah jauh hari bisa diramalkan, sebab esensi terpenting dari suatu ketahanan ekonomi negara adalah pada kekuatan industrinya. Negara-negara anggota Uni Eropa yang bermasalah tersebut sudah lama sebenarnya kalah dalam perang industri. Praktis Industri di Eropa mayoritas dikuasai oleh Jerman, dan Perancis serta mungkin Inggris. Prancis sendiri sebenarnya tidak begitu kuat daya saing industrinya, akan tetapi industri finansialnya masih cukup kuat untuk menopang ketahanan ekonomi mereka.

Namun begitu orang sering melupakan hal-hal fundamental tersebut. Bahkan negara-negara yang tidak memiliki daya saing industri yang kuat itu, sering lupa diri dan menerbitkan surat hutang melampaui daya bayar mereka, ibarat orang memiliki kartu kredit kelas Infinite akan tetapi gajinya hanya kelas PTKP, jelas hal seperti ini bisa mengakibatkan kiamat ekonomi dalam keberlangsungan hidup suatu negara.

Lebih celaka lagi, jika negara-negara yang bermasalah itu terkait dalam suatu kesatuan tatanan ekonomi kawasan, yang melibatkan kerjasama kesatuan mata uang dan perdagangan antar negara. Akibatnya bisa ditebak, gejolak sedikit saja dari negara-negara itu bisa mengakibatkan guncangan yang sangat hebat dalam tata perekonomian kawasan tersebut.

Lantas apakah Uni Eropa masih bisa dipertahankan? George Soros sendiri skeptis dengan hal tersebut, karena jika dipaksakan menghindari default, justru akan meruntuhkan dunia secara keseluruhan. Kami sendiri juga tidak yakin jika Uni Eropa bisa bertahan. Mungkin sebagian besar perbankan Eropa masih bisa selamat (jika memang dana talangan perbankan mencukupi). Namun tidak dengan negara-negara yang bermasalah itu sendiri. Para pemegang surat hutang harus rela mengalami hair cut atas pinjaman yang mereka berikan. Bahkan mungkin pemutihan hutang, alias write off atas hutang tersebut. Dan sebagai gantinya, asset-asset berharga dari negara itu harus rela diambil alih oleh para pemegang surat hutang itu.

Dampak pemotongan peringkat hutang negara-negara Eropa yang terjadi semalam dan mengakibatkan guncangan atas bursa Amerika, walau kecil, kemungkinan hari Senin depan (10 October 2011) akan menimbulkan gejolak lagi terhadap bursa Asia. Walau tidak sehebat beberapa waktu yang lalu ketika bursa Indonesia sempat terjun bebas hingga -8.8%, namun mengakibatkan jangka pemulihan ekonomi menjadi jauh lebih panjang lagi.

Indonesia sendiri harus bersiap menghadapi hal terburuk, karena suntikan-suntikan likuiditas dipasar uang, surat hutang dan saham, tidak pernah menyelesaikan masalah secara tuntas. Karena esensi dasar dari perekonomian ada pada ketahanan industri baik pertanian, perikanan, manufaktur, perbankan dan lainnya. Jika negara-negara yang bermasalah itu mengalami de-industrialisasi, tentu solusinya bukan dengan cara suntikan likuditas, namun harus dengan cara menumbuh kembangkan industri itu sendiri.

Kita pernah mengalami gejala de-industrialisasi, meskipun belakangan industri dalam negeri kita sudah mulai pulih kembali, namun pasar dalam negeri kembali dirusak oleh para pelaku import illegal dan import secara membabi buta tanpa memperhatikan kekuatan ketahanan ekonomi dalam negeri. Apalagi ditambah oleh carut marut birokrasi kita yang menyebabkan RIM pun enggan untuk berinvestasi di Indonesia. Walaupun pasar pengguna handset Blackberry kita adalah salah satu yang terbesar di dunia.

Sudah saatnya pemerintah berhenti untuk saling bersitegang antar departemen dan memperbaiki sikap birokrasi yang kaku. Korupsi dan tumpang tindihnya kebijaksanaan hanya menyebabkan negara ini semakin terpuruk, bukan tidak mungkin suatu saat kita bisa ikut terseret kasus default seperti yang dialami oleh banyak negara maju jika tidak segera berubah.

Kamis, 15 September 2011

Intel Haswell dan Windows 8, Awal Mula Tonggak Era Post PC

Dengan diluncurkannya Intel Ivy Bridge secara resmi oleh Intel Corporation beberapa waktu yang lalu, secara diam-diam, Intel telah memulai merintis awal abad tablet dan smartphone untuk menggeser kedudukan PC sebagai piranti komputasi.

Intel Ivy Bridge yang dirancang dengan teknologi silicon 3D dan tehnik arsitektur prosesor 22nm memang belum secara jelas menggambarkan kesiapan intel memasuki era post pc. Namun dengan meningkatnya performa yang diimbangi oleh peningkatan penghematan daya prosesor, secara tidak langsung, menggambarkan usaha intel untuk mulai diam-diam memasuki pasar komputasi telefon cerdas dan komputasi sabak (tablet).

Namun pengenalan awal akan generasi berikutnya dari prosesor intel yakni Intel Haswell, secara terang benderang langsung menunjukan taring intel untuk terjun langsung bertempur habis-habisan di dunia tablet, smartphone, netbook dan Ultra Book. Daya tahan Intel Haswell yang bisa menghemat pemakaian baterai berjam-jam bahkan hitungan hari, hingga kemampuannya untuk digerakan dengan tenaga panel surya, menggambarkan secara jelas kesiapan intel terjun habis-habisan di dunia komputasi tablet.

Memang hingga saat ini, Intel baru secara resmi mengumumkan prosesor Intel Z670 mereka sebagai satu-satunya prosesor tablet pc. Namun kehadiran Intel Haswell yang mendukung pemakaian hemat energy secara tidak langsung menunjukan kesiapan mereka bertarung habis-habisan menjegal dominasi prosesor ARM di pasar komputer tablet dan smartphone.

Apalagi dengan kehadiran Microsoft Windows 8 yang kemungkinan akan diluncurkan pada masa antara tahun 2012 - 2013 nanti. Perangkat yang digembar-gemborkan akan berhadapan langsung dengan platform tablet keluaran Apple dan Android, jelas menunjukan dunia tengah beralih ke era post PC. Windows 8 dengan antar muka “Metro” yang sangat mendukung sistem layar sentuh dan dukungan pada arsitektur prosesor X86 dan ARM secara nyata menggambarkan dunia yang tengah berubah.

Pada akhirnya, mungkin nanti para eksekutif kantoran dan dokter serta profesional yang tidak terlalu mengandalkan mesin PC yang besar, akan secara perlahan bergeser menggunakan smartphone dan tablet pc menggantikan fungsi pc mereka.

Saya jadi teringat akan seorang kenalan dokter di salah satu rumah sakit di luar negeri, beliau tidak pernah menggunakan PC sama sekali, pada masa itu (tahun 2006) ia hanya menggunakan PDA untuk menyimpan data pasien dan sekaligus mengatur jadwal pekerjaannya. PC hanya ada di bagian administrasi rumah sakit. Jelas ini adalah petunjuk bagaimana secara perlahan dunia mulai meninggalkan PC.

Semoga kemajuan tehnologi ini semakin bermanfaat bagi kita semua, tidak hanya menambah sampah silikon di tempat pembuangan limbah.

Kamis, 21 Juli 2011

Seberapa Perlukah Koneksi LTE di Indonesia ?

Beberapa hari ini, pikiran saya selalu terusik membaca gembar-gembor beberapa provider selular di Indonesia akan rencana mereka melakukan investasi LTE di Indonesia. Bahkan sampai ada yang sudah melakukan ujicoba di dalam negeri bukan sekedar memantau test di luar negeri.

Sejujurnya, LTE tidak bisa memecahkan permasalahan bandwidth bottleneck dari traffic internet di jaringan selular provider-provider tersebut. Bahkan yang terjadi LTE hanya menjadi jargon pemasaran ketimbang layanan jasa yang sesungguhnya.

Mengapa? Karena untuk jaringan HSPA + saja yang bekecepatan 21 Mbps, idealnya sudah lebih dari cukup untuk transfer video streaming youtube kualitas 1080p dan 720p, karena video youtube rata-rata bitrate full hd nya tidak lebih dari 18 Mbps. Kebanyakan hanya sekitar 10 Mbps.

Suatu ironi dan kelucuan yang menyesatkan konsumen layanan jasa broadband selular di Indonesia, karena bahkan rata-rata kecepatan tertinggi jaringan HSPA + maupun DC HSPA (Dual Carrier High Speed Protocol Access) hanya berkisar antara 384 kbps hingga 1 Mbps. Beberapa pengujian pribadi yang saya lakukan menggunakan modem maupun telefon selular HSPA, hanya mentok di speed rata-rata 1 Mbps, kecepatan 2 Mbps sendiri sangat langka, hanya sesekali saat browsing saja, tidak pernah saat download apalagi upload yang rata-rata dibatasi hingga 120 kbps.

Justru, salah satu operator selular besar ada yang mengakui terpaksa menambah jumlah BTS di kawasan Indonesia Timur agar sms tidak mengalami delay. Bayangkan, hanya untuk sms saja masih mengalami delay, apalagi layanan data? Jangankan di kawasan Indonesia Timur, para pengguna selular di Jakarta sendiri sering mengalami lag sms pada akhir tahun / tahun baru ataupun hari raya.

Yang perlu dilakukan oleh para provider selular itu untuk meningkatkan kecepatan akses layanan data dan jumlah pelanggan layanan data, adalah melakukan manajemen bandwidth baik secara sistem, software maupun hardware dan terutama ketersediaan jumlah BTS yang memadai dengan rasio user pengguna di daerah tersebut.

Jangan pikirkan masalah rugi investasi BTS dulu, karena namanya pembangunan infrastruktur BTS jelas memakan biaya tinggi, tapi pikirkan proyeksi investasi jangka panjangnya dan keuntungan jika layanan broadbandnya tercukupi. Percuma membangun satu dua pemancar LTE jika pemakai internet selular bisa mencapai 120 juta penduduk misalnya. Lebih baik seluruh pemancar BTS 3G dan 3.5G dioptimalkan jumlah dan kapasitasnya.

Sampai saat ini belum ada layanan selular broadband yang mendapat respek secara baik oleh mayoritas pengguna, selalu saja muncul keluhan dari mulai blankspot area hingga buruknya kualitas signal dan transfer data.

Bandingkan jika misalkan anda berada di luar negeri, tidak usah dengan Singapore, dengan Thailand saja layanan EDGE mereka rata-rata lebih baik ketimbang layanan 3G kita. Ini suatu bentuk ironi, bahwa kita hanya mengejar investasi semu dan buang-buang uang secara percuma demi mengejar pencitraan perusahaan ketimbang berfikir secara bijak mengenai pemecahan masalah secara total.

Padahal, yang namanya bisnis jasa, sangat tergantung dari kesiapan bagian operasional dan infrastruktur operasionalnya itu sendiri. Tanpa harus dengan gembar-gembor pemasaran yang dahsyat, konsumen sudah cerdas untuk memilih operator yang layanan kualitasnya baik dan terpercaya. Tanpa dukungan jaringan yang baik, hanya mengandalkan jargon LTE, bisa dipastikan itu akan menjadi pukulan balik yang memalukan citra perusahaan itu sendiri. Semoga bisa menjadi bahan renungan bagi semua operator selular.

Kamis, 14 Juli 2011

Jika Amerika benar-benar gagal bayar hutang

Beberapa malam yang lalu, dalam suatu acara pertemuan antar para nasabah private banking di salah satu hotel mewah di kawasan ibukota, mencuat kekhawatiran para pemegang uang bahwa Amerika benar-benar akan mengalami default. Bahkan beberapa investor kelas kakap, sempat gempar ketika pembawa acara menyampaikan bahwa dollar sudah tamat riwayat, dollar is a dying currency, begitu ujar seorang ekonom terkenal.

Padahal, jauh sebelum itu, saya sudah pernah menulis di kompasiana, bahwa suatu saat Amerika akan hancur dan dollar akan jatuh ditinggalkan oleh banyak investor maupun bank sentral di seluruh dunia.

Namun akhirnya waktu juga yang menjawab, kini di hari-hari terakhir ini, begitu banyak investor cemas dan panik akan nasib mata uang yang pernah jaya ini. Akibat kepanikan itu, harga emas diramalkan akan melonjak hingga USD 1600 per troy ounce di akhir tahun.

Saya sendiri termasuk yang percaya, suatu saat harga emas akan terbang ke level 5000 USD per troy ounce, ini bukan mengarang-ngarang, tapi Amerika punya keterbatasan finansial dan cetak uang. Jika Amerika terus menerus cetak uang, sementara kemampuan plafon kreditnya (meskipun dinaikan beberapa kali) juga terbatas, suatu saat mata uang ini akan kolaps dan bernasib sama dengan Zimbahwe.

Sementara hari-hari-hari ini kita semua cemas dan gigit jari menanti keputusan final apakah Presiden Obama berhasil meyakinkan kongres Amerika agar usulannya untuk merevisi budget dan melakukan pemangkasan anggaran, menaikan pajak serta menaikan plafon kredit berhasil disetujui oleh parlemen atau tidak.

Lantas bagaimanakah dengan Indonesia? Apakah negara kita akan terimbas, dan seberapa parah imbasnya bagi negara kita? Pertama-tama harus dilihat dulu, bagaimana struktur makro perekonomian negeri kita yang tercinta ini. Indonesia adalah pengekspor energy dan komoditas, dari mulai gas, batu bara, CPO (minyak kelapa sawit), logam dan mineral hasil tambang serta lainnya. Kita juga mengekspor beberapa kebutuhan sandang, seperti sepatu, pakaian, tas, kulit mentah (untuk diolah menjadi bahan baku tas dan sepatu), dan lain sebagainya.

Saat ini, Amerika masih menjadi salah satu tujuan utama ekspor kita, jika Amerika guncang kembali, tentu saja ekspor kita akan terpukul. Namun kita masih punya pasar dalam negeri yang kuat, meskipun banyak pihak baik pelaku industri maupun pengamat ekonomi pesimis akan kemampuan daya serap pasar dalam negeri. Justru di sini peranan penting pemerintah dalam menjaga stabilitas daya serap hasil industri oleh konsumen dalam negeri untuk terus tetap dijaga.

Di sisi lain, kita adalah importir minyak, sedikit banyak anggaran belanja negara kita ditentukan oleh fluktuasi harga minyak dunia. Jika pertumbuhan ekonomi gagal atau melambat, harga minyak akan turun kembali, dan anggaran pengeluaran negara kita akan membaik. Namun ekspor non minyak kita juga akan terpukul, karena harus dialihkan ke negara lain, atau jika tidak laku, ya terpaksa di konsumsi dalam negeri.

Lantas bagaimana dengan bursa saham dan pasar uang di dalam negeri? Hal ini tidak perlu terlalu dicemaskan, saat ini kita kebanjiran hot money dalam jumlah fantastis sepanjang sejarah. Seandainya pasar terguncang hebat, rupiah dan pasar modal memang akan goyang sebentar, tapi pada akhirnya, pasar akan bersikap rasional, dan kembali memburu asset-asset di emerging market yang memiliki fundamental ekonomi yang sangat kuat. Dan saat ini di seluruh dunia hanya ada dua emerging market yang menarik, yakni Brazil dan Indonesia. Brazil sendiri tidak begitu disukai karena mengenakan pajak atas aliran hot money. Indonesia tidak, tentu saja uang akan lebih deras mengalir ke Indonesia sesudah pasar sadar tidak lagi bisa berharap ke ekonomi negara-negara maju.

Yang menjadi pertanyaan sekarang, apakah pemerintah kita sudah siap mengantisipasi aliran hot money ini? Saat ini yang benar-benar sangat dibutuhkan oleh para investor adalah ketersediaan infrastruktur dari mulai listrik, jalan raya, jalan tol, rel kereta api, transportasi massal sekelas MRT Skytrain dan MRT Subway selain Busway, dan juga infrastruktur kawasan-kawasan industri di luar jawa agar terjadi pemerataan pembangunan.

Kenyataannya, daya serap kita terhadap aliran hot money ini sangat lemah, bahkan setiap tahun selalu terjadi kelebihan anggaran di mana anggaran belanja tidak terserap oleh daerah karena lemahnya implementasi pembangunan infrastruktur akibat benturan berbagai kepentingan dan proyek-proyek titipan. Semoga kita semua sadar, bahwa pada saatnya kita harus meninggalkan budaya proyek dan korupsi dan mulai memikirkan kemajuan negara kita bersama-sama. Salam.

Jumat, 08 Juli 2011

Change Management: antisipasi, inovasi, dan perubahan, sebagai kunci keberhasilan bisnis dan organisasi dalam jangka panjang

Sepanjang tahun 2008 hingga 2011 ini, kita seringkali melihat nama-nama besar di industrinya masing-masing timbul tenggelam silih berganti. Merek-merek yang di era sebelum krisis 2008 berkibar layaknya jumawa, pada tahun 2011 banyak yang mengalami kerugian dan kejatuhan harga sahamnya. Bahkan ada beberapa merek besar yang diramalkan akan menghilang dalam 20 tahun ke depan.

Berhasil tidaknya suatu bisnis dalam jangka panjang, sangat tergantung kepada visi dari perusahaan tersebut, apakah bisa mengantisipasi perubahan pasar dan mengikuti dan bahkan memimpin arus perubahan selera pasar atau tidak.

Seringkali orang berfikir hanya dari sisi aspek keuangan atau aspek operasional saja, namun melupakan strategi bisnis dalam jangka panjang. Ketika suatu usaha mulai beranjak besar dan menggurita, seringkali melupakan bahwa dalam bisnis tidak ada yang kekal, layaknya suatu bentuk kehidupan akan mengalami fase penuaan dan kemunduran bahkan kematian jika tidak di antisipasi dengan baik.

Benar kita memerlukan quality control ala six sigma quality, dan juga supply chain management yang baik mengacu kepada standar SCOR (Supply Chain Organization Reference) Model, namun itu semua tidak ada artinya tanpa antisipasi perubahan bisnis dan juga inovasi dan perubahan dalam industri itu sendiri.

Sales, dan Marketing Strategic harus merupakan implementasi visi jangka panjang terhadap antisipasi perubahan pasar dan harus berisikan sejumlah inovasi dan perubahan dalam industri tersebut.

Begitupula dengan rencana operasional dan strategi operasional perusahaan, termasuk di dalamnya struktur bangun organisasi perusahaan, harus terus berubah seiring dengan perubahaan pasar yang sangat pesat.

Jika dulu suatu model bisnis lebih berorientasi kepada SILO model, saat ini, suatu bisnis dituntut untuk berubah mengikuti stream model bisnisnya. Ambil contoh, pada industri manufaktur, jika dahulu suatu pabrik terbagi-bagi atas divisi-divisi dari mulai operasional, keuangan, pemasaran, HRD dan lain sebagainya, saat ini banyak industri manufaktur dituntut untuk mengaburkan batasan antar divisi dan melakukan perubahan dalam struktur bidang organisasinya. Ada banyak industri consumer goods dituntut membagi-bagi divisi berdasarkan merek produknya, sehingga tidak aneh jika ada pabrik yang memiliki banyak pegawai keuangan yang terpecah-pecah ke dalam beberapa produk yang berbeda.

Suatu organisasi baik bisnis maupun non bisnis juga dituntut untuk semakin ramping dan fleksibel terhadap perubahan. Ada banyak manajer cabang yang lebih banyak melakukan tugas marketing merangkap operasional dan keuangan dibandingkan waktu yang lalu. Para pekerja dituntut untuk memiliki banyak fungsi dan ketrampilan agar organisasi dapat bertahan terhadap arus perubahan jaman. Ini karena persaingan usaha yang semakin ketat dan beratnya biaya operasional dari tahun ke tahun, sehingga jika suatu organisasi tidak ramping, efisien, dan efektif, maka organisasi tersebut bisa runtuh ke dalam jurang kebangkrutan.

Strategi-strategi pengembangan produk / jasa pun harus selalu mengacu kepada antisipasi perubahan selera pasar tersebut. Contoh paling gampang adalah penjualan bawang. Jika dulu orang banyak yang membeli bawang secara ketengan di pasar, sekarang banyak produk bawang olahan dari mulai bawang goreng hingga serbuk bawang dan juga kapsul berisi ekstrak bawang. Karena ternyata bawang bukan hanya diperlukan sebagai salah satu racikan bumbu dapur, tapi juga menyebar menjadi ramuan obat herbal untuk menjaga kesehatan dan menangkal berbagai penyakit.

Tentu saja dalam menghadapi arus perubahan itu, terkadang banyak individu di dalam organisasi yang tidak siap menghadapi perubahan bisnis dan organisasi. Untuk itu perlu adanya persiapan jangka panjang, dari mulai mempersiapkan orang-orang yang akan menjadi agen perubahan di dalam organisasi, kesediaan para pimpinan perusahaan termasuk komisaris dan pemilik bisnis untuk mengawal dan menjadi pemimpin arus perubahan, hingga fase persiapan perubahan itu sendiri dari mulai pengenalan, penyebaran pengaruh, implementasi hingga sampai ke tahap perubahan itu sendiri.

Siap tidak siap, dunia terus berubah, kita sendiri harus terus berubah, tentu saja ke arah yang lebih baik dan lebih positif. Jangan biarkan virus-virus anti perubahan terus menerus berada dan merongrong garis kebijakan yang telah ditetapkan. Pengaruhi dan ubah virus-virus anti perubahan itu agar mau berubah baik secara sukarela maupun dengan aturan organisasi. Ini agar tahapan transformasi bisnis bisa berjalan sesuai dengan rencana semula dan organisasi bisa berjalan dengan baik dan lancar.

Semoga bisnis dan organisasi anda tetap berkibar di tahun-tahun mendatang, salam perubahan.

Jumat, 24 Juni 2011

Mewaspadai Ancaman Kredit Macet Perbankan

Kurang lebih setahun yang lalu, saya pernah menuliskan artikel mengenai “mewaspadai lonjakan kredit macet di perbankan kita”. Agaknya apa yang saya khawatirkan akhirnya terbukti juga, baru-baru ini salah satu media ekonomi merilis kabar mengenai adanya dua bank asing besar yang NPL nya menyentuh angka 5% dan terancam masuk dalam pengawasan Bank Indonesia.

Bank yang satunya sudah pasti terkena kredit macet di sektor corporate credit, sementara yang satunya lagi masih kurang jelas, apakah terkena kasus di consumer credit seperti KTA ataupun kartu kredit atau justru terkena di kasus kredit korporasi, maklum bank yang satu ini main di semua lini bisnis (wholesale banking).

Padahal justru beberapa waktu yang lalu, salah seorang pejabat tinggi di Bank Indonesia justru menyindir salah satu bank swasta nasional yang cenderung bermain aman dan minim penyaluran kredit. Namun kenyataannya apa yang dilakukan bank tersebut tidaklah salah sepenuhnya.

Pada kenyataannya, benar, sebuah bank harus menjadi agen pembangunan seperti yang pernah saya tuliskan beberapa waktu yang lalu. Namun menjadi agen pembangunan yang seperti apa, dan dalam bentuk penyaluran kredit macam apa yang harus dibahas lebih mendalam lagi.

Memborbardir pasar dengan segala macam kemudahan dan fasilitas kredit, tanpa disertai analisa yang mendalam mengenai model bisnis dan karakter perilaku pelaku bisnisnya, adalah sangat berbahaya. Jika tidak hati-hati, Indonesia justru bisa terjerumus kembali ke model praktik jaman orde baru, di mana jor-joran pemberian kredit menyebabkan kejatuhan yang dalam saat terjadi krisis Asia tahun 1997 /1998 tempo hari.

Itulah pentingnya pengelolaan sumber daya manusia harus diperhatikan benar-benar, jangan sampai kecolongan karena lemahnya faktor sumber daya manusia sehingga menyebabkan bank-bank yang ada mengalami masalah dalam penyaluran kreditnya.

Di sini peran bank sentral sangat diperlukan guna mengevaluasi kembali kebijakan dan peraturan serta pembinaan bank-bank nasional baik swasta maupun BUMN, baik asing maupun lokal. Karena lemahnya pembinaan sumber daya dan kurang optimalnya peraturan bisa menyebabkan instabilitas dalam kerangka ekonomi makro.

Akhir kata, perlu dipikirkan dan dievaluasi kembali, kebijakan penyaluran dan kemudahan kredit seperti apa yang sebaiknya dilakukan dan bagaimana model pelaksanaannya di lapangan agar di satu sisi tidak menghambat pembangunan namun di sisi lain tidak menyebabkan ekonomi dalam kondisi labil dan rapuh.