Minggu, 18 Maret 2012

Market Outlook 2012: Tantangan di tengah laju inflasi dan perlambatan ekonomi

Tidak terasa, tahun 2012 telah memasuki pertengahan bulan Maret, ketika di awal-awal tahun investor merasa cukup optimis, namun ancaman kenaikan harga minyak dunia dan perlambatan pemulihan ekonomi akibat krisis Eropa dan melambatnya perekonomian China berpengaruh luas dan berimbas juga ke dalam negeri Indonesia.

Kenaikan harga surat hutang Indonesia di tengah kenaikan peringkat investasi, ternyata tidak selamanya abadi. Menjelang akhir Februari 2012 banyak investor asing yang melepas kepemilikan SUN Indonesia secara terus menerus mengantisipasi kemungkinan kenaikan laju inflasi yang akan terjadi jika pemerintah benar-benar jadi menaikan harga bbm bersubsidi. Selain daripada harga surat hutang negara kita yang memang juga sudah kemahalan saat itu, dengan tingkat yield yang sudah tidak menarik lagi dibandingkan beberapa negara tetangga.

BBM bersubsidi sudah dipastikan sulit untuk tidak dinaikan, terlebih lagi buruknya sistem infrastruktur, transportasi dan distribusi bbm yang rawan oleh kebocoran, menyebabkan banyak terjadi penimbunan dan penyelundupan bbm keluar negeri selama bertahun-tahun dan sulit untuk diberantas. Apalagi yang namanya disparitas harga tentu saja selalu mengundang kebocoran quota baik karena ulah penyelundup dan penimbun maupun konsumsi masyarakat akibat buruknya infrastruktur dan sistem transportasi massal.

Upaya menekan gelembung kredit dengan mengubah struktur uang muka kredit, sebenarnya bagus-bagus saja, namun harus dipertimbangkan matang-matang, karena selain menekan pertumbuhan industri kendaraan bermotor dan properti, hal ini juga menimbulkan keresahan dalam masyarakat kita yang harus diakui masih berpenghasilan rendah.

Terlebih buruknya sistem infrastruktur dan transportasi massal yang memang masih jauh dari sempurna sehingga masyarakat enggan menggunakan sistem transportasi massal yang murah yang mana sebenarnya dapat menjadi katup pelepas ancaman inflasi.

Perlambatan pertumbuhan ekonomi global sendiri seharusnya dapat diantisipasi jika saja pemerintah kita tidak sibuk dengan politik pencitraan dan mengabaikan ancaman ekonomi biaya tinggi akibat buruknya sistem logistik nasional dan infrastruktur jalan raya dan transportasi umum selain daripada birokrasi yang berbelit dan penuh dengan korupsi.

Ancaman kenaikan bbm ini sendiri, tidak saja akan menekan pasar obligasi dalam negeri, namun juga pasar saham juga akan tertekan terutama industri-industri yang terpengaruh oleh kenaikan bbm dan laju inflasi. Termasuk di dalamnya sektor otomotif, sektor keuangan dan juga sektor properti.

Bantuan langsung tunai yang sekarang namanya sudah diubah, tidak akan banyak membantu, karena ibaratnya hanya memberikan ikan, bukan kail. Ini lebih cenderung kepada politik pencitraan saja, di tengah badai korupsi dan krisis politik dalam negeri. Salah satu media asing malah memberitakan investor mulai khawatir dengan stabilitas politik dan masa depan ekonomi Indonesia. (http://www.cnbc.com/id/46702066?)

Ini menjadi suatu tantangan yang harus segera dipecahkan, jika kita tidak dapat mengantisipasi masalah ini dalam waktu singkat, dipastikan ekonomi kita akan tertinggal lagi seperti saat pemulihan krisis asia tahun 1998 lalu, di mana Korea Selatan dan China melejit sementara kita cenderung tidak bergerak dan jalan di tempat sampai tahun 2005.

Kita jangan terburu-buru bangga dengan investment grade yang bertubi-tubi diterima, karena ada masalah-masalah mendasar yang hingga kini tarik ulur tidak selesai-selesai sejak jaman reformasi. Dari mulai persoalan birokrasi yang korup, lamban dan tidak efisien, infrastruktur yang buruk, transportasi massal yang buruk, logistik nasional yang berbiaya tinggi akibat buruknya sistem infrastruktur dan lain sebagainya.

Ini adalah pekerjaan rumah yang harus segera dituntaskan, dan tidak bisa ditunda-tunda lagi, mengingat umur pemerintahan sekarang kurang dari dua tahun lagi. Semoga saja masih ada kesadaran untuk mengubah keadaan.

Minggu, 01 Januari 2012

Catatan Kecil 2011: Ketidakadilan Sosial dalam Pemerataan Pembangunan

Note: Tadinya tulisan ini akan diposting malam tahun baru, tapi kesibukan penulis menyebabkan artikel ini baru ditulis awal tahun.

Sepanjang perjalanan tahun 2011, terjadi banyak peristiwa dalam dunia ekonomi dan bisnis di Indonesia. Dari mulai keputusan plin-plan untuk menaikan harga bbm ataupun membatasi subsidi bbm yang selalu mundur sejak tahun 2010, dibatalkannya pembangunan monorail digantikan dengan sistem yang lain, sehingga kemacetan bertambah parah, gejolak ekonomi global akibat krisis Eropa yang menghancurkan harapan para analisis pasar modal supaya dagangannya laku dengan sesumbar indeks tembus 4400, sampai kebijakan menurunkan suku bunga.

Namun ada hal-hal kecil yang terabaikan dan akan cenderung tetap diabaikan, yakni keadilan sosial dan ekonomi bagi seluruh rakyat Indonesia. Padahal sistem ekonomi Indonesia adalah Sistem Ekonomi Sosial Pancasila, yang cenderung berasaskan sistem Sosialis bukan Kapitalis. Tapi sayangnya kita jauh lebih kapitalis ketimbang negara-negara kapitalis itu sendiri.

Kehadiran supermarket mini di berbagai tempat banyak mematikan potensi ekonomi warung dan pasar-pasar tradisional yang tadinya banyak memberikan sumbangan sebagai tulang punggung ekonomi negara kita. Begitu juga dengan sistem transportasi massal yang merakyat, terjangkau dan efektif sebagai pengurang kemacetan di berbagai kota di Indonesia. Kehadiran armada Bus Transjakarta misalnya, masih jauh dari harapan sebagian besar rakyat (termasuk penulis). Jumlah armada yang jauh dari mencukupi, jelas sangat menimbulkan ketidak-nyamanan bagi para penumpang serta menyebabkan banyak keterlambatan tiba di tempat kerja maupun pulang ke rumah. Sehingga alternatif motor maupun mobil pribadi, tetap menjadi pilihan banyak rakyat, apakah itu harus kredit, beli bekas, dan lain sebagainya. Padahal kemajuan pembangunan yang banyak ditunjukan oleh angka-angka setiap tahunnya, masih jauh panggang dari api. Karena tidak menyentuh aspek kehidupan rakyat banyak. Apa gunanya kemajuan pembangunan ekonomi jika kesenjangan sosial dan ekonomi semakin tinggi?

Tragedi Mesuji, Bima, dan lain sebagainya adalah contoh bagaimana runyamnya jika kesenjangan ini tidak diatasi dengan baik. Ini ibarat menyimpan bara api dalam sekam, suatu waktu akan meledak menjadi revolusi sosial yang menakutkan. Jika hal itu sampai terjadi, keamanan bagi orang kaya dan pemilik modal menjadi hal yang sangat riskan.

Sebaiknya di tahun 2012 ini, pemerintah harus lebih bijaksana dalam membuat banyak kebijakan, dan bisa menyeimbangkan antara kepentingan dunia usaha dan kepentingan rakyat kecil. Lebih baik meningkatkan ekonomi dengan pemerataan pembangunan secara adil dan beradab ketimbang melulu hanya melihat dari angka-angka saja. Semoga tragedi-tragedi kemarin menjadi bahan pembelajaran agar bisa introspeksi lebih baik.

Senin, 14 November 2011

Mencermati Awan Hitam Badai Krisis Ekonomi

Beberapa waktu yang lalu, pada salah satu acara peluncuran ORI 008 yang diselenggarakan oleh salah satu bank kepada para nasabah prioritasnya, salah seorang ekonom terkemuka yang kebetulan bekerja di bank tersebut sesumbar bahwa Indonesia memiliki fundamental ekonomi yang kuat, tidak akan terjadi ekonomi kita kolaps seperti Amerika dan Eropa.

Saya pribadi, saat itu sangat menyayangkan statement demikian. Karena pada tahun 2008, kita nyaris bangkrut andai kata The Fed dan pemerintah Amerika tidak buru-buru mengambil kebijakan moneter yang ekstrim untuk membatasi kejatuhan akibat efek domino dari Subprime Mortgage. Saat itu rupiah sudah terkulai ke level 12 ribu, dan bahkan beberapa petinggi bank sentral sudah panik mencari talangan akibat operasi pasar uang yang nyaris gagal.

Perlu diingat, bahwa, tanpa dana talangan dalam bentuk Obligasi Rekap, semua bank di Indonesia sudah habis, tidak ada lagi sisanya kecuali bank-bank asing. Hingga tahun 2003, secara metode Altman Z Score, perbankan di Indonesia masih termasuk kategori default/gagal. Bersyukurlah penilaian gagal tidaknya bank di negara ini tidak menggunakan metode pengukuran demikian yang lazim dipakai untuk mengukur gagal bayar suatu obligasi.

Saat ini, kondisi ekonomi global, belum benar-benar pulih, bahkan jika menggunakan pengukuran analisa tehnikal, kita justru baru memasuki babak baru dari gelombang badai yang lebih besar lagi. Pemulihan bursa dari kejatuhan yang mengagetkan di bulan Oktober, tidak serta merta mencerminkan adanya sinyal pembalikan arah menjadi optimis. Namun baru sebatas tahap tehnical rebound terbatas, sama seperti efek bola yang melambung ke atas saat jatuh membentur tanah.

Jalan panjang pemulihan ekonomi masih panjang, sementara di sisi lain mark up berbagai mega proyek di tanah air melalui korupsi terstruktur dan terorganisir masih terus berjalan, padahal semua itu dibiayai oleh uang negara dan sebagian besar berasal dari hutang-hutang jangka panjang. Padahal kita seharusnya malu dan bercermin dari kegagalan Yunani yang akhirnya bangkrut karena terlalu jor-joran menghamburkan uang saat penyelenggaraan olimpiade.

Berdasarkan publikasi dari CIA mengenai hutang luar negeri Indonesia, saat ini telah mencapai USD 196.1 Billion (per 31 Desember 2010) naik dari USD 172.9 Billion di tahun sebelumnya. Memang jika dibandingkan dengan GDP hutang tersebut belum mengkhawatirkan, masih terbilang aman, bahkan membaik dari 26.4% di tahun 2009 menjadi 25.7% di tahun 2010.

Namun kita tidak boleh lupa, bahwa GDP kita digerakan oleh hanya sekitar maksimum 10 persen dari keseluruhan penduduk. Artinya, kesenjangan sosial dan kemampuan menggerakan perekonomian masih dikuasai oleh orang yang itu-itu saja. Apa jadinya jika kekuatan yang 10 persen itu tiba-tiba mengamankan semua assetnya kembali ke luar negeri seperti yang terjadi pada periode tahun 1997-1999. Karena rata-rata para pemilik modal sudah mengetahui kejatuhan baik ekonomi maupun politik sebelum kejatuhan itu terjadi.

Saat ini krisis hutang Yunani sudah menjalar ke Spanyol dan Italia, bahkan telah menyebabkan banyak terjadinya guncangan-guncangan politik di sana tidak hanya ekonomi. Efek domino akibat krisis hutang negara barat telah menjalar ke mana-mana. Jika situasi dan kondisi semakin memburuk (dan saya pikir kondisi tidak akan benar-benar membaik dalam waktu dekat) akibatnya bisa sangat fatal, kepanikan pasar yang terjadi beberapa waktu yang lalu dengan tumbangnya IHSG sampai nyaris 10 persen dalam sehari, bisa terjadi lagi, bahkan bisa lebih seram lagi.

Sementara di sisi lain, orang-orang yang seharusnya perduli dengan kondisi ini, justru berlomba-lomba sibuk dengan penggalangan dana dan kekuatan politik guna persiapan kampanye di tahun 2014. Sungguh sangat ironis, apalagi kritikan moral dari lembaga semacam KPK justru ditanggapi secara negatif dan emosional oleh sebagian pihak.

Hal ini bisa menjadi bumerang, karena jika kondisi politik dan pemerintahan yang kotor dan korup ini terus dibiarkan berlarut-larut, sementara badai tsunami ekonomi di luar sudah semakin membesar, maka kegagalan suatu negara hanya tinggal tunggu hitungan waktu saja.

Rabu, 12 Oktober 2011

Di Balik Langkah Drastis BI Menurunkan Suku Bunga

Beberapa hari yang lalu, tepatnya hari Selasa 11 Oktober 2011 secara mengejutkan, Bank Indonesia, menurunkan BI Rate ke level 6.5% dari sebelumnya di level 6.75%. Hal ini adalah langkah pertama kalinya penurunan suku bunga di tahun 2011 sejak kenaikan BI Rate pada tanggal 4 Februari 2011 yang lalu.

Langkah ini tentu saja sangat mengejutkan pasar, para ekonom dan pengamat, dan bahkan kalangan bankir baik swasta nasional, swasta asing dan BUMN. Namun tidak semua kalangan terkejut dengan langkah ini. Ada beberapa yang bisa memperkirakan langkah ini, hanya saja semua terkejut karena ini terjadi sebelum tahun 2012, padahal beberapa kalangan perbankan asing memperkirakan penurunan BI rate akan terjadi di kuartal pertama atau kedua tahun 2012.

Namun langkah ini penting dan perlu dilakukan, karena BI kali ini harus lebih proaktif dalam mengantisipasi pasar. Terutama dalam mengantisipasi krisis global yang semakin memburuk dan membebani laju pertumbuhan dan pemulihan ekonomi. Karena dari perkiraan IMF, laju ekonomi global akan melambat menjadi hanya sekitar 4% saja, sementara target pemerintah pertumbuhan harus bisa mencapai 6.6%. Inflasi yang semula menjadi momok, justru akhirnya menjadi kekhawatiran terjadi deflasi.

Sebenarnya langkah berani BI ini, mengundang kerawanan tersendiri, di saat pasar sedang labil, dan para investor cenderung mengamankan asset dollar-nya. Hal ini dikhawatirkan oleh pasar dan juga pengamat dan para ekonom bisa melemahkan rupiah dan menggoyangkan kepercayaan investor.

Hanya saja sebenarnya pasar tidak perlu khawatir. Asalkan saja Bank Indonesia bisa dan mampu menjaga supply dollar di pasar dalam negeri, aktif mengontrol nilai tukar dan aktif menjaga kestabilan pasar surat berharga dan surat hutang negara sebagai standby buyer maka pasar masih bisa mentolerir langkah maju Bank Indonesia ini.

Dan nampaknya hal tersebut yang dilakukan oleh Bank Indonesia dalam beberapa kurun waktu terakhir ini, dari mulai aktif mengintervensi pasar surat hutang, melakukan stabilisasi valas dan juga menjaga supply dollar di pasar dalam negeri. Meskipun langkah mengintervensi pasar obligasi ini mengundang tanda tanya sebagian analisis pasar modal dan perbankan, karena dengan membailout pasar surat hutang, secara tidak langsung kita juga turut membailout investor asing yang sedang memegang surat hutang pemerintah Indonesia.

Namun demikian, langkah intervensi secara proaktif dari Bank Indonesia terhadap pembelian sejumlah surat hutang negara adalah dipandang penting oleh pemerintah sebagai keterlibatan pemerintah dalam menjaga confidence level dari pasar, sehingga para investor tidak panik dan menarik dananya beramai-ramai dari pasar surat hutang negara kita.

Hanya saja yang perlu diperhatikan adalah, Bank Indonesia dan Departemen Keuangan, harus tetap berhati-hati dan awas terhadap perkembangan yang terjadi di pasar, baik dalam negeri maupun luar negeri. Karena situasi sekarang berubah secara cepat dan drastis, belum lagi situasi di pasar uang dan saham yang dipenuhi oleh sejumlah rumor yang turut memperkeruh suasana dan kestabilan pasar. Dengan demikian, kita harapkan semoga para pengambil keputusan tidak salah langkah dalam membuat kebijakan.

Jumat, 07 Oktober 2011

Kejatuhan Rating PIIGS, Quo Vadis Uni Eropa?

Jika masih ada pembaca yang ingat, bahwa kami pernah menuliskan artikel berikut ini “Eropa Pasca Kejatuhan Yunani dan Portugal“ tentu apa yang terjadi sekarang ini bukan hal yang aneh dan mengejutkan. Artikel yang kami tulis lebih dari setahun yang lalu itu, ternyata masih berujung panjang. Ternyata bantuan pinjaman dari Uni Eropa terhadap Yunani tidak menyelesaikan masalah, bahkan semakin lama semakin memberatkan keutuhan Uni Eropa sebagai suatu kesatuan Ekonomi.

Kemarin malam, bursa Amerika diterjang kepanikan, sesudah kredit rating sebagian besar negara-negara PIIGS (Portugal - Irlandia - Italy - Greek - Spain) yang merupakan kawasan Eropa Selatan diturunkan. Sebenarnya, para pemain bursa tidak perlu kaget atau panik, karena hal itu sudah jauh hari bisa diramalkan, sebab esensi terpenting dari suatu ketahanan ekonomi negara adalah pada kekuatan industrinya. Negara-negara anggota Uni Eropa yang bermasalah tersebut sudah lama sebenarnya kalah dalam perang industri. Praktis Industri di Eropa mayoritas dikuasai oleh Jerman, dan Perancis serta mungkin Inggris. Prancis sendiri sebenarnya tidak begitu kuat daya saing industrinya, akan tetapi industri finansialnya masih cukup kuat untuk menopang ketahanan ekonomi mereka.

Namun begitu orang sering melupakan hal-hal fundamental tersebut. Bahkan negara-negara yang tidak memiliki daya saing industri yang kuat itu, sering lupa diri dan menerbitkan surat hutang melampaui daya bayar mereka, ibarat orang memiliki kartu kredit kelas Infinite akan tetapi gajinya hanya kelas PTKP, jelas hal seperti ini bisa mengakibatkan kiamat ekonomi dalam keberlangsungan hidup suatu negara.

Lebih celaka lagi, jika negara-negara yang bermasalah itu terkait dalam suatu kesatuan tatanan ekonomi kawasan, yang melibatkan kerjasama kesatuan mata uang dan perdagangan antar negara. Akibatnya bisa ditebak, gejolak sedikit saja dari negara-negara itu bisa mengakibatkan guncangan yang sangat hebat dalam tata perekonomian kawasan tersebut.

Lantas apakah Uni Eropa masih bisa dipertahankan? George Soros sendiri skeptis dengan hal tersebut, karena jika dipaksakan menghindari default, justru akan meruntuhkan dunia secara keseluruhan. Kami sendiri juga tidak yakin jika Uni Eropa bisa bertahan. Mungkin sebagian besar perbankan Eropa masih bisa selamat (jika memang dana talangan perbankan mencukupi). Namun tidak dengan negara-negara yang bermasalah itu sendiri. Para pemegang surat hutang harus rela mengalami hair cut atas pinjaman yang mereka berikan. Bahkan mungkin pemutihan hutang, alias write off atas hutang tersebut. Dan sebagai gantinya, asset-asset berharga dari negara itu harus rela diambil alih oleh para pemegang surat hutang itu.

Dampak pemotongan peringkat hutang negara-negara Eropa yang terjadi semalam dan mengakibatkan guncangan atas bursa Amerika, walau kecil, kemungkinan hari Senin depan (10 October 2011) akan menimbulkan gejolak lagi terhadap bursa Asia. Walau tidak sehebat beberapa waktu yang lalu ketika bursa Indonesia sempat terjun bebas hingga -8.8%, namun mengakibatkan jangka pemulihan ekonomi menjadi jauh lebih panjang lagi.

Indonesia sendiri harus bersiap menghadapi hal terburuk, karena suntikan-suntikan likuiditas dipasar uang, surat hutang dan saham, tidak pernah menyelesaikan masalah secara tuntas. Karena esensi dasar dari perekonomian ada pada ketahanan industri baik pertanian, perikanan, manufaktur, perbankan dan lainnya. Jika negara-negara yang bermasalah itu mengalami de-industrialisasi, tentu solusinya bukan dengan cara suntikan likuditas, namun harus dengan cara menumbuh kembangkan industri itu sendiri.

Kita pernah mengalami gejala de-industrialisasi, meskipun belakangan industri dalam negeri kita sudah mulai pulih kembali, namun pasar dalam negeri kembali dirusak oleh para pelaku import illegal dan import secara membabi buta tanpa memperhatikan kekuatan ketahanan ekonomi dalam negeri. Apalagi ditambah oleh carut marut birokrasi kita yang menyebabkan RIM pun enggan untuk berinvestasi di Indonesia. Walaupun pasar pengguna handset Blackberry kita adalah salah satu yang terbesar di dunia.

Sudah saatnya pemerintah berhenti untuk saling bersitegang antar departemen dan memperbaiki sikap birokrasi yang kaku. Korupsi dan tumpang tindihnya kebijaksanaan hanya menyebabkan negara ini semakin terpuruk, bukan tidak mungkin suatu saat kita bisa ikut terseret kasus default seperti yang dialami oleh banyak negara maju jika tidak segera berubah.

Kamis, 15 September 2011

Intel Haswell dan Windows 8, Awal Mula Tonggak Era Post PC

Dengan diluncurkannya Intel Ivy Bridge secara resmi oleh Intel Corporation beberapa waktu yang lalu, secara diam-diam, Intel telah memulai merintis awal abad tablet dan smartphone untuk menggeser kedudukan PC sebagai piranti komputasi.

Intel Ivy Bridge yang dirancang dengan teknologi silicon 3D dan tehnik arsitektur prosesor 22nm memang belum secara jelas menggambarkan kesiapan intel memasuki era post pc. Namun dengan meningkatnya performa yang diimbangi oleh peningkatan penghematan daya prosesor, secara tidak langsung, menggambarkan usaha intel untuk mulai diam-diam memasuki pasar komputasi telefon cerdas dan komputasi sabak (tablet).

Namun pengenalan awal akan generasi berikutnya dari prosesor intel yakni Intel Haswell, secara terang benderang langsung menunjukan taring intel untuk terjun langsung bertempur habis-habisan di dunia tablet, smartphone, netbook dan Ultra Book. Daya tahan Intel Haswell yang bisa menghemat pemakaian baterai berjam-jam bahkan hitungan hari, hingga kemampuannya untuk digerakan dengan tenaga panel surya, menggambarkan secara jelas kesiapan intel terjun habis-habisan di dunia komputasi tablet.

Memang hingga saat ini, Intel baru secara resmi mengumumkan prosesor Intel Z670 mereka sebagai satu-satunya prosesor tablet pc. Namun kehadiran Intel Haswell yang mendukung pemakaian hemat energy secara tidak langsung menunjukan kesiapan mereka bertarung habis-habisan menjegal dominasi prosesor ARM di pasar komputer tablet dan smartphone.

Apalagi dengan kehadiran Microsoft Windows 8 yang kemungkinan akan diluncurkan pada masa antara tahun 2012 - 2013 nanti. Perangkat yang digembar-gemborkan akan berhadapan langsung dengan platform tablet keluaran Apple dan Android, jelas menunjukan dunia tengah beralih ke era post PC. Windows 8 dengan antar muka “Metro” yang sangat mendukung sistem layar sentuh dan dukungan pada arsitektur prosesor X86 dan ARM secara nyata menggambarkan dunia yang tengah berubah.

Pada akhirnya, mungkin nanti para eksekutif kantoran dan dokter serta profesional yang tidak terlalu mengandalkan mesin PC yang besar, akan secara perlahan bergeser menggunakan smartphone dan tablet pc menggantikan fungsi pc mereka.

Saya jadi teringat akan seorang kenalan dokter di salah satu rumah sakit di luar negeri, beliau tidak pernah menggunakan PC sama sekali, pada masa itu (tahun 2006) ia hanya menggunakan PDA untuk menyimpan data pasien dan sekaligus mengatur jadwal pekerjaannya. PC hanya ada di bagian administrasi rumah sakit. Jelas ini adalah petunjuk bagaimana secara perlahan dunia mulai meninggalkan PC.

Semoga kemajuan tehnologi ini semakin bermanfaat bagi kita semua, tidak hanya menambah sampah silikon di tempat pembuangan limbah.

Kamis, 21 Juli 2011

Seberapa Perlukah Koneksi LTE di Indonesia ?

Beberapa hari ini, pikiran saya selalu terusik membaca gembar-gembor beberapa provider selular di Indonesia akan rencana mereka melakukan investasi LTE di Indonesia. Bahkan sampai ada yang sudah melakukan ujicoba di dalam negeri bukan sekedar memantau test di luar negeri.

Sejujurnya, LTE tidak bisa memecahkan permasalahan bandwidth bottleneck dari traffic internet di jaringan selular provider-provider tersebut. Bahkan yang terjadi LTE hanya menjadi jargon pemasaran ketimbang layanan jasa yang sesungguhnya.

Mengapa? Karena untuk jaringan HSPA + saja yang bekecepatan 21 Mbps, idealnya sudah lebih dari cukup untuk transfer video streaming youtube kualitas 1080p dan 720p, karena video youtube rata-rata bitrate full hd nya tidak lebih dari 18 Mbps. Kebanyakan hanya sekitar 10 Mbps.

Suatu ironi dan kelucuan yang menyesatkan konsumen layanan jasa broadband selular di Indonesia, karena bahkan rata-rata kecepatan tertinggi jaringan HSPA + maupun DC HSPA (Dual Carrier High Speed Protocol Access) hanya berkisar antara 384 kbps hingga 1 Mbps. Beberapa pengujian pribadi yang saya lakukan menggunakan modem maupun telefon selular HSPA, hanya mentok di speed rata-rata 1 Mbps, kecepatan 2 Mbps sendiri sangat langka, hanya sesekali saat browsing saja, tidak pernah saat download apalagi upload yang rata-rata dibatasi hingga 120 kbps.

Justru, salah satu operator selular besar ada yang mengakui terpaksa menambah jumlah BTS di kawasan Indonesia Timur agar sms tidak mengalami delay. Bayangkan, hanya untuk sms saja masih mengalami delay, apalagi layanan data? Jangankan di kawasan Indonesia Timur, para pengguna selular di Jakarta sendiri sering mengalami lag sms pada akhir tahun / tahun baru ataupun hari raya.

Yang perlu dilakukan oleh para provider selular itu untuk meningkatkan kecepatan akses layanan data dan jumlah pelanggan layanan data, adalah melakukan manajemen bandwidth baik secara sistem, software maupun hardware dan terutama ketersediaan jumlah BTS yang memadai dengan rasio user pengguna di daerah tersebut.

Jangan pikirkan masalah rugi investasi BTS dulu, karena namanya pembangunan infrastruktur BTS jelas memakan biaya tinggi, tapi pikirkan proyeksi investasi jangka panjangnya dan keuntungan jika layanan broadbandnya tercukupi. Percuma membangun satu dua pemancar LTE jika pemakai internet selular bisa mencapai 120 juta penduduk misalnya. Lebih baik seluruh pemancar BTS 3G dan 3.5G dioptimalkan jumlah dan kapasitasnya.

Sampai saat ini belum ada layanan selular broadband yang mendapat respek secara baik oleh mayoritas pengguna, selalu saja muncul keluhan dari mulai blankspot area hingga buruknya kualitas signal dan transfer data.

Bandingkan jika misalkan anda berada di luar negeri, tidak usah dengan Singapore, dengan Thailand saja layanan EDGE mereka rata-rata lebih baik ketimbang layanan 3G kita. Ini suatu bentuk ironi, bahwa kita hanya mengejar investasi semu dan buang-buang uang secara percuma demi mengejar pencitraan perusahaan ketimbang berfikir secara bijak mengenai pemecahan masalah secara total.

Padahal, yang namanya bisnis jasa, sangat tergantung dari kesiapan bagian operasional dan infrastruktur operasionalnya itu sendiri. Tanpa harus dengan gembar-gembor pemasaran yang dahsyat, konsumen sudah cerdas untuk memilih operator yang layanan kualitasnya baik dan terpercaya. Tanpa dukungan jaringan yang baik, hanya mengandalkan jargon LTE, bisa dipastikan itu akan menjadi pukulan balik yang memalukan citra perusahaan itu sendiri. Semoga bisa menjadi bahan renungan bagi semua operator selular.