Sabtu, 25 September 2010

Amerika di Ujung Kebangkrutan Total

Menyimak perkataan seseorang baru-baru ini dihadapan banyak orang, bahwa “Amerika sudah kehilangan dominasinya dan hanya tersisa pengaruh sisa kejayaan masa lalunya” patut dicermati secara seksama.

Dari kunjungan beberapa pelaku bisnis baru-baru ini ke Amerika, ditemukan kenyataan satu-satunya jenis industri yang masih bertahan di Amerika tinggal industri hiburan (entertaintment) baik dunia tarik suara maupun seni peran dan perfilman.

Pada kenyataannya jumlah pengangguran di Amerika terus bertambah, dan anak-anak muda banyak yang mengemis-ngemis pekerjaan dan bahkan sebagian besar WN Amerika melarikan diri ke Asia berusaha mencari penghidupan yang lebih layak.

Amerika sendiri tanpa bantuan RRC bisa dipastikan akan kolaps. Karena saat ini negara yang memegang surat hutang pemerintah AS dalam jumlah sangat masif adalah RRC, bayangkan apa yang terjadi jika RRC mendadak melepas semua surat hutang pemerintah USA tersebut.

Jadi lupakan saja mencari green card di Amerika, negara itu sudah menjadi kuburan bagi para pencari mata pekerjaan. Kecuali anda bersedia hidup di apartemen kumuh dan bekerja serabutan entah menjadi doorman, satpam dan lain sebagainya.

Pergerakan harga emas yang terus meroket menembus batas-batas historis tertingginya terhadap US Dollar menunjukan bahwa pamor Amerika semakin meredup. Justru wacana pemotongan angka nol pada rupiah seharusnya diganti menjadi wacana menguatkan pamor nilai tukar rupiah dan ekonomi dalam negeri agar dapat berswasembada tanpa perlu import maupun eksport, dengan demikian kita dapat menjadi negara yang benar-benar merdeka, bukan seperti sekarang yang katanya saja merdeka, namun dari Sabang hingga Merauke telah dikapling-kapling oleh perusahaan milik Amerika, Eropa, Jepang, Korea, RRC, Malaysia, Singapore dan bahkan Thailand.

Amerika mungkin tidak akan menjadi seperti Zimbahwe, namun pastinya kurang lebih akan seperti Russia saat terpuruk secara ekonomi dan finansial beberapa waktu yang lalu. Harus ada perombakan total secara ekstrim baik terhadap gaya hidup maupun sistem ekonominya.

Namun melihat dari perilaku kebanyakan orang Amerika yang konsumtif tanpa di dukung kemampuan finansial yang riil, tentu sulit merubah kebiasaan tersebut. Gaya hidup hemat dan belanja seperlunya masih bukan merupakan pilihan yang disukai oleh kebanyakan dari antara mereka.

Sepertinya bangsa kita pun harus segera sadar dan menyikapi hal ini. Karena budaya konsumtif ala kartu kredit bukan budaya yang patut ditiru, dan harus segera diakhiri. Begitupula dengan budaya pinjam uang untuk urusan non produktif.

Protected by Copyscape Online Plagiarism Checker

Tidak ada komentar:

Posting Komentar